Bidadari untuk bunayya
Oleh: Teuku Abie Yoes
Aku terus melewati gerbang santriwati, melewati beberapa balai sampai terlihat balai kecil bambu beratap rumbia dimana santri-santriku sudah sedari tadi menunggu, sudah jadi kebiasaan pesantren Raudhatul Muna untuk memelihara pandangan, setiap santri atau guru menundukan pandangan ketika berpas-pasan atau berhadapan dengan selain mahram meskipun santriwati mengenakan burqah dan purdah, kebiasaan ini sudah mendarah daging bagiku, jarang sekali kutegakkan kepalaku bahkan hampir tidak pernah ketika memasuki perkarangan santriwati yang dikelilingi pagar setinggi 2 meter.
"PHHUUMMM" seorang santriwati yang terburu-buru tak sengaja menabrakku, dia tersungkur jatuh dihadapanku, beberapa kitab yang didekap takzim dalam pelukannya jatuh beserakan ketanah, tubuhku pun eleng sehingga jatuh namun sempat kutompang dengan tanganku, burqah yang dikenakannya terlepas membuatku tak sengaja melihat wajah gadis yang mengaduh itu, dia sangat cantik nan ayu, rambut alisnya melengkung tipis menyatu memayungi sepasang cahaya mata hijau kecoklatan begitu indah memancarkan kecantikan zuriat dari timur tengah, putih bak salju kulitnya ditambah bibir tipis kecil merah merekah disambut hidung mancung yang dimilikinya, aku seperti melihat afrodite bidadari tanpa sayap dialtar santri ini.
"Astaqfirullahal ‘azim" kutundukkan segera pandanganku yang sempat terbuai kecantikan nan ranum miliknya
"Afwan ukhty!" Pintaku
"La baksa ustadz" balasnya sambil membereskan kitab yang berserekan dengan luka robek ditelapak tangannya dan berlari kecil menjauhiku.
Langkahku berlanjut sampai kekelas, sebuah tirai abu abu terbentang memisahkan pandanganku dengan santriwati diseberang tirai, tikar kecil disiapakan untukku
"Asalamualaikum" salamku
"Walaikumsalam" jawab mereka serentak,
"Maaf, hari ini ustadz terlambat, kita mulai pengajiannya yaa!, tolong buka kita uqudulizhain hal 46, bismillahirahmanirrahim" seperti kebiasanku yang membuka pengajian dengan asma Allah dan tanpa basa basi
"Imam mujahid berkata: apabila seorang wanita datang maka duduklah iblis diwajahnya dan merias wanita itu hingga menyenangkan dan Mengairahkan setiap yang memandangnya, jika wanita itu dibelakangnya maka iblis akan duduk dipantatnya dan merias wanita itu terhadap orang yang memandangnya, jadi karena itulah apabila wanita hendak keluar rumah maka wajib baginya menutup seluruh tubuh dan kedua tangannya agar selamat dari pandangan mata orang-orang yang memandang jadi ia wajib menentang orang yang dianggap melihat atau dia melihat orang lain. Bagaimana sudah faham?" Selidiku
"Faham ustadz"
-------********--------
"Kenapa denganku, kenapa dengan gadis yang menabrakku tadi terus terlintas dibenakku, sepertinya hatiku pun telah ditabraknya, peri mawar yang tiba-tiba menyusup disela-sela kebun hati, menghinggap dikelopaknya sampai aku lupa diri, inilah yang kutakuti, sekejap saja aku memandangnya tapi bayanganya terus menyelimuti dalam setiap mimpi dan membekas dibenakku, padahal selama ini aku telah menjaga pandanganku, allahumma'qhfirli zunubi yaa Rabb.
"Kring..... Kring......" kulihat nama ummi tertera dipanggilan masuk,
"Asalamualikum ummi"
"Walaikumsalam, bunnayya, pulanglah nak sebentar, 5 hari lagi pernikahanmu, bahkan kamu belum berta’arufan dengan calon istrimu"
"Iya ummi, besok bunay pulang, bunay percaya dengan pilihan ummi, tidak jumpa pun tidak apa-apakan ummi, ummi jaga kesehatan ya, jangan terkalu capek, kan ada kak lita dan kak yuni yang menyiapkan persiapan pernikahan bunay, bang iqbal juga ada"
"Iya bunay, ummi sehat kok, satu-satunya anak ummi yang belum menikah, sudah 28 tahun toh bunay, mau nunggu apa lagi, ummi takut udah tua uzur gak sempat liat anak ummi menikah"
"Nauzubillah, iyaa iyaa ummi kamis ini bunay udah jadi manten insyaallah"
"Iya sudah, asalamualaikum"
"Walaikumsalam" salamku mengakhiri.
------********-----
Kupercepat langkahku saat melihat ummi menangis tersedu-sedu didampingi kak lita dan kak yuni yang mengelus pundak mencoba menenangkan, bang iqbal mondar-mandir memegang handphone, kusalami tangan ummi dan mencium lututnya, ummi memelukku, menangis sejadi jadinya, meraba wajah bayuku
" Bunay.....khkh.....khkh....., bunay..... Betapa kasiannya kamu nak!"
"Kenapa ummi menangis?" Tanyaku
"Dek bunay, keluarga pak saiful ayah chairatul husna membatalkan pernikahan ini secara sepihak, khkh" jawab kak yuni yang masih mengelus pundak ummi.
"Tapi kenapa kak?"
Kakak menggeleng, "itu abang iqbal dari tadi menelpon pak saiful meminta kejelasan, padahal sebentar lagi, semua persiapan sudah diatur, sekarang bagaimana dengan tamu, acara presepsi, aula untuk walimatul ursy, liat betapa kasian ummi, ummi paling tertekan, padahal ummi sangat berharap kali ini bisa melihat kamu menikah sebelum datang hari uzurnya"
mataku berkaca-kaca menahan perih derita,
"Ummi !!, bunay akan menikah hari kamis lusa, bunay janji, bunay cuma minta restu ummi untuk siapapun calon istri bunay, menantu ummi !!, bunay janji ummi bunay akan menikah" mencium telapak tangan ummi dan membawanya ke ubun ubunku
"Tidak ada jawaban sama sekali, sepertinya pak saiful sudah bulat dengan keputusannya" tutur bang iqbal
"Tidak apa apa bang, ummi maafkan bunay yang acuh tak acuh urusan pernikahan"
"Khkh.. Kenapa nasibmu begini bunay"
"Ummi, bunay pamit ya, nanti acara penikahan malah ummi sakit gak bisa temenin, bunay janji kamis ini, bunay akan membawa menantu tercantik buat ummi" hiburku sembari dengan senyuman palsu, kemana aku harus mencarinya ya Allah, padahal selama ini dengan rasa maluku dan sikapkulah yang membuat keluargaku mencarikan calon istri untukku, bagaimana aku bisa mencari calon istri yang telah kuutarakan kepada ummi, kemana aku harus mencarinya.
------********------
Pagi ini berat terasa menyiksa bagiku bahkan untuk keluar bilik, ustadz indra juga tidak bisa membantu, langkahku melambung lemah menuju balai rumbia, murid-muridku sudah siap tapi aku tidak denganku,
"Asalamualaikum" salamku seperti biasanya
"Walaikumsalam" hening beberapa saat kemudian terdengar gaduh dibelakang tirai, mereka seperti berbisik entah apa, mungkin karna tidak seperti kebiasaanku yang langsung mengajar ketika memasuki kelas,
"Ehemm" salah seorang mendehem memecah keheningan
"Ustadz minta maaf kemarin tidak bisa mengajar karna ada urusan yang ustadz selesaikan?, sebenarnya hari kamis ini hari pernikahan ustadz tapiii",
aku kembali hening
"tapi kenapa ustadz?, kenapa ustadz tidak bilang mau menikah?"
"Iyaa, ummi ustadz yang mengatur semuanya bahkan ustadz tidak kenal calon istri ustadz, mulai presepsi, para tamu undangan, ummi sangat bersemangat, sebenarnya ustadz tidak mau menikah dulu, tapi sudah beberapa kali menolaknya, dan disaat ustadz mengiyakan semua calon yang dipilih ummi menolak lamaran ustadz dengan berbagai alasan, mulai dari lulusan pesantren tidak menjamin kesejahtraan masa depan, ustadz katanya kolot yang tau hanya mesjid dan musolla, ada juga yang menolak dengan sopan dan lembut"
"masyaalllah" mereka terkejut
"Termasuk dia calon yang akan menjadi istri ustadz hari kamis ini membatalkan pernikahan dan perjodohan secara sepihak tanpa alasan yang jelas, padahal ummi sampai kurus kecapean mempersiapkannya, ummi sangat shock mendengar kabar itu, bukan hanya karna rasa malu kepada tamu dan kerabat yang sudah tau tentang pernikahan ini dan kegagalan pertunangan beberapa kali yang lalu, rasa sayang ummi kepada ustadz dan beberapa kali permitaanya untuk ustadz segera menikah sebelum dia mebelakangi dunia katanya yang selalu membuat ustadz miris, ustadz takkan bisa melihat ummi menangis, apapun akan ustadz lakukan untuk ummi, ummi adalah satu satunya orangtua ustadz setelah almarhum abi meninggal 10 tahun silam"
Mereka diam tercengang, seperti tak percaya kepada yang barusan aku katakan, padahal sebelumnya bicarapun jarang bahkan hampir tiap pagi waktu hanya untuk belajar tok,
"yaa akhwat!"
"Aiwah ustadz"
"Ustadz sudah berjanji untuk menikah hari kamis ini tapi ustadz sangat bingung, tak ada yang seorang pun wanita yang ustadz kenal kecuali kalian"
"yaa akhwat!"
"Maukah diantara kalian menjadi istri ustadz, ustadz bersedia berapapun maharnya dan apapun syaratnya"
Kudengar mereka mengaduh berbisik, hatiku bimbang harap harap cemas, beberapa lama masih hening dengan bisikan-bisikan kecil, bahkan sebanyak itu muridku tak ada yang mau ku persunting, pikirku, tiba tiba sebuah kertas memo kecil terlipat disodorkan dibawah tirai abu abu bertuliskan
"Ustadz, nabila mau jadi istri ustadz, mengenai mahar biarlah urusan kelurga nabila"
"ALHAMDULLAH" syukurku sedikit keras sambil menyapu tetesan air mata yang jatuh dengan sendirinya,
"Kalau begitu, telepon orang tua ukty segera, katakan padanya kamis ini acara pernikahan dan semua telah diatur"
"aiwah ustadz"
-------*********-------
"Saya nikahkan teungku nabila ratna ayu azalianti binti mustafa untukmu teungku sariyulis bin abdullah dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai"
Tanganku mengenggam erat tangan abu syekhy, jantung berdetak kencang beriama, nafas kembang kempis sambil kuucapkan qabul
"Saya terima nikahnya teungku nabila ratna ayu azilianti binti mustafa untuk saya dengan mas kawin separangkat alat salat dibayar tunai"
Bagaimana? Tanya moderator dihadapan saksi dan majelis, "SAH, SAH" seraya satu mesjid bertahmid “alhamdulillah”
Kuusap wajahku dengan air mata menetes pelan, kulirik ummi menangis bahagia dipeluk kak yuni dan kak lita, aku juga bersyukur tidak jadi menikahi chaira, ternyata bapak saiful memutuskan pertunangan karena malu kepada keluargaku kalau tau sebenarnya chaira tidak perawan lagi,
Pak mustafa mendatangiku hendak mecium tanganku, tapi segera ku balikan dengan mencium tangannya dan sungkem mecium lututnya, beliau menangis merangkulku, ternyata pak mustafa sangat bahagia mendapat menantu seorang ustadz terlihat maharnya yang sangat sederhana.
"Pabak!, izinkan saya membimbing anak bapak"
"Iyaa nak, bapak percaya kepadamu, nabila sangat bahagia, dia sering menceritakan ustadz sebagai gurunya dipesantren"
Aku melirik kearahnya duduk manis dibalik burqohnya bersama ibu mustafa mertuaku, tapi aku sangat penasaran sekalipun aku belum pernah melihat wajah gadis yang telah menjadi istriku beberapa menit yang lalu, aku sangat bersyukur dalam keberkahan keluarga yang sangat memuliakan anak pesantren, "alhamdulillah ya Allah " syukurku berkali-kali atas karunianya.
------*******------
"Tok..... Tok.... Asalamualaikum" salamku sembari mengetuk pintu kamar.
"Walaikumsalam, masuklah" balasnya
Kubuka perlahan-lahan pintu, kudapatkan dirinya duduk tersipu dipinggir ranjang, pakaian gamis biru muda acara presepsi tadi masih digunakannya tanpa terlepas burqoh diwajahnya, kuhampiri dirinya dipinggir ranjang, wajahnya menunduk begitu pula diriku,"ukhty!"
"Ia ustadz"
"Ukhty jangan panggil ustadz lagi ya, panggil akhy saja"
"Iya ustadz eh akhy"
Kutegakkan perlahan lahan kepalaku menatap wajahnya "boleh akhi buka burqahnya ukhty?" Dia hanya hanya mengangguk pelan, kudekatkan tanganku kewajahnya membuka ikatan burqahnya yang bersimpul dibelakang
"Subhanallah Nabila" takjubku, dia adalah afroditeku, bidadari tanpa sayap yang menabrakku beberapa hari lalu, wajah ayu nan cantik mata hijau kecoklatan ditudung alis tipis yang melengkung, bibirnya merah merekah tersenyum manis diapit dua lesung pipinya yang memerah tersipu malu, sampai pandanganku menyatu dimatanya yang indah, bahkan aku tak menyangka bidadari itu adalah muridku.
“ya Habibati?"
Kucium keningnya dan jemarinya,
"Bolehkah aku bertamu dihatimu malam ini?"
"Masuklah, sekarang dirimu tuan rumah dihatiku telah lama kuhidangkan jamuan nimat sebagai takzimku untukmu" kucium kembali jemarinya,
"alhamdulillah ya Allah, syukran ya Habibati, kita shalat dulu ya Ukty biar Allah memberkahi keberkatan untuk kita malam jumat ini"
"Iya ustadz, eh akhy"
The End

0 Response to "Bidadari untuk Bunayya"
Posting Komentar