BALADA TEUKU SUFYAN
Oleh: Teuku Abie Yoes
“Neu crueb ABII,,,,!!!!” Teriakku membahana ruang 6x6, spontan Abi memalingkan tubuhnya mengarah kepadaku, menunduk dan tiarap, tembakan timah panas menghujani rumah semi permanen ini, 4 saudaraku yang lain juga ikut tiarap.
Merangkak menuju sumur di dapur, rumahku sudah dikepung alat keamanan negara (TNI) sedari jam 22 WIB tadi.......!!!!
Dor,,,,, dor,,, croott, trotoott.....!!! sepertinya tembakan ini takkan reda, Ummi dan cut nyak fatma (adik kecilku) menangis ketakutan di pojok dapur. Abang Muzakir dan Abang Hamzahmemindahkan karung goni padi yang menutupi lobang sumur kecil itu, sementara abangku teuku Fauzi dan Teuku Harist melakukan tembakan perlawanan disela-sela lobang rumah mengarahkan laras AK 47 ke anggota keamanan Negara yang bersembunyi di balik pepohonan dan gundukan kecil belantara lhok gob.
Kulihat tak sedikitpun gentar dimata Abi ( pejuang eks Libiya yang pernah disumpahkan oleh Yusuf Ali di desa dayah kuta makmur, Aceh Utara ), mengendalikan emosinya membidik serdadu loreng yang amat dibencinya.
Door...... Dorrr,,,,, trottt,,, trotott,,,!! Keringat bercucuran membasahi, kepanikan dan ketakutan di wajahku dan saudaraku , air mata Ummi dan dek Fatma yang menderai juga membasahi wajahnya yang dibalut kerudung hitam.
“ Sofyan, Muzakir, Hamzah ...!!! kajaga Ummi ngen Fatma..” . Pesan Abi diantara bunyi tembakan yang membuat ratusan lobang di dinding rumahku, beberapa bagian ruamah menjalar api yang mengepal asap pekat “ get Abi !!!” Balasku.
Kutuntun Ummi dan Fatma menuruni sumur, disusul abang Hamzahdibelakang tapi bang Muzakir, badan adn kepalanya masih di atas bibir sumur memandang Ummi, dek Fatma dan kearahku, kemudian menghilang.
Ddoooorrr,,,, dorr,, crott,, Ahhh,,, akhhhh....”AAABBBBIIIIIII ,..!!!” serak tangis bersama teriakan abangku, Kupeluk erat – erat tubuh dek Fatma, air matanya terus menderai “ abii ..kkk,,kkk Abi bang sofyan !!” mata kusamnya menadah kepadaku, kusapu air matanya, kurebahkan dalam pelukanku, air mataku pun tak terbendung, aku tak tau apa yang terjadi di atas sumur ini, yang terlihat hanya langit yang dibatasi bulatan cincin bibir sumur.
“ Dek Fatma, Sofyan,!!” tegur bang Hamzah yang memopong Ummi, “Cepat...cepat...! doakan mereka baik – baik saja, kita harus selamatkan Fatma dan Ummi..”.
“ Hmm” aku mengangguk mengiyakan, langkahku trus menulusuri terowongan kecil nan gelap, berjalan pelan – pelan dengan lentera (panyet serungkeng) menembus ke pinggir sungai belantara Lhok gob, meninggalkan sejuta pertanyaan dan kebimbangan tentang nasib Abi dan saudara – saudaraku, semua terlintas begitu saja dalam gumamku.
Berawal tanggal 4 desember 1976, di bukit cokan , pedalaman Tiro, Pidie, ketika Hasan di tiro memproklamirkan kemerdekaan Aceh Sumatra di hadapan para serdadu dan patriot yang diselimuti semangat kemerdekaan, sejak saat itu AGAM ( angkatan gerakan aceh merdeka ) melepaskan diri dari pangkuan Ibu pertiwi. Sejak saat itu pula Angkatan Gerakan Aceh Merdeka ini memperjuangkan kemerdekaan di konstitusi Internasional PBB tentang pembebasan diri dari Imperalis Jawa. Namun TNI sebagai alat keamanan negara takkan tinggal diam, GAM diburu sekalipun anggota separatis terus bermunculan dari setiap wilayah di Aceh, medan yang dikuasai oleh GAM membuat TNI kualahan sehingga terhitung babak “Dom” sejak serdadu menyerbu Aceh dengan taktik gerilya yaitu “shock terapy”, orang-orang diculik, wanita diperkosa, dicegat, disandra untuk mendapatkan suami, dibunuh dan dibuang di tempat umum untuk menebar ketakutan dan membuat rakyat Aceh takut berurusan dengan GAM dan takut dengan Indonesia, tapi gerakan ini bukannya dapat dibasmi namun tetap bertahan bahkan justru mengalami kemajuan dan mendapat dukungandari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, bahkan negara Libiya memfasilitasi AGAM dengan pelatihan kemiliteran dan persenjataan.
Abi salah satu eks pasukan Libia yang menjabat panglima GAM Ulee gle, begitu keras dengan imperalis Jawa. “Bek sampe nanggroe Aceh nyoe di peu ancoo le pai – pai paleh nyan.” (jangan sampai negeri aceh ini dihancurkan oleh indonesia) kata – kata itu sering diucapkan Abi. Aku belum mengerti dengan ideologi dasar pemikiran gerakan ini, yang kulihat Abi adalah gambaran serdadu Aceh yang berani memperjuangkan hak-hak Aceh yang dianak tirikan dan sosok yang begitu membenci TNI.
“Berhenti...........! atau kalian kutembak!!” seru serdadu loreng TNI menghamburkan kegamanganku yang sedang berlari dipinggir sungai lhok gob dan menoleh ke belakang. Kulihat jilatan nyala bom api dan mengempal langit malam yang tak seberapa jauh dari tempatku sekarang. Rumahku akan menjadi arang sebentar lagi, sementara Ummi masih berlari tanpa mengubris seruan mereka.
“ Drott..... drott.....” suara tembakan kelangit menghentikan langkahku, tapi Ummi...
Dorr.... crot,, “akhhh.” Anak timah panas bersarang di perut Umii,
“ Ummiiiiiiii,,,” kami berlari kearah Ummi dengan sigap bang hamzah memeluk Ummi merangkul dalm pangkuan, dek Fatma menepuk – nepuk wajah ummi yang meringis kesakitan , tangannya memegang luka tembakan tuk menghentiakn pendarahan.
“Ummi... kk ..kkk.. bek neutinggai Fatma sidroe ,,, kkk...kkk.. ummmi...”(umii... kk.. kkhh.. jangan tinggalkan fatma sendiri) isak tangis dek fatma membuat kemarahan membara dimataku dan bang hamzah,
“ Pai paleh..!! chhatt!!! Sebuah rencong kulempar tertancap didada serdadu TNI namun dua serdadu lain yang menyergap sedari tadi pun membalas dengan tembakan ke arahku, dua peluru panas membuatku tersungkur dipinggiran sungai, beberapa tendangan mendarat di perut bang hamzah, kepalanya dihantam keras dengan gagang senjata M16. Aku merangkak ingin menggapai tangan ummi,, that.... that,,,,!! Tendangan keras mendarat di punggungku, membuatku tergelincir dan hanyut keperairan sungai lhok gob dibawa arus bersama luka yang menganga meninggalkan Ummi dan bang hamzah yang sedang sekarat , dan dek fatma yang entah bagaimana nasibnya. Terakhir kali kulihat memanggil namaku sebelum terbenam dalam arus derasnya sungai lhok gob.
Fajar menyinsing disudut aceh jeumpa, bebatuan krueng batee iliek diiringi derusan arus deras mengalir sepanjang sungai menuju kuala samalanga. Cabang pohon ara menyangkutkan tubuhku yang lemah dari kuatnya arus sungai ini. Cahaya matahari menyoroti wajahku membuat mataku terbuka perlahan-lahan, tubuhku sakit bak terlepas semua tulang dari persendian, luka yang menganga menusuk ke setiap tubuh, tanganku menepuk-nepuk air meminta pertolongan.
Seorang pemancing berkopiah dengan sarung dikalungkan di lehernya belari ke arahku “astaghfirullllahhhhhh,,, paken lagee nyoe!!!” (kenapa begini )menggopongku melewati jalan kecil setapak menuju sebuah dayah murni kulihat tulisan di pamplet “ Raudhatul Muna” samalanga, bebatuan sungai memenuhi halaman dayah sekaligus halaman mesjid raya yang masih kokoh, menampung santri dan pelajar mondokan ilmu agama, di sebelah kiri ada pohon giri yang bergantungan buahnya.
Pohon quini mengakar menjulang kelangit begitu subur dan lebat di halaman mesjid. “astaghfiruyllahh,,,, so nyan cek ram..? mee, meee keunoe laju u pokestren..” (siapa itu cek ram?, bawakan segera ke pokestren) tegur tgk maulana selaku ustadz dan juga tabib yang melihat tgk ramli menggopongku. Ratusan mata santri memandangiku sebelum tubuhku hilang dibalik pintu bilek tgk maulana yang digunakan sebagai pokestren. Merebahkanku yang tak sadarkan diri sampai terbangun dari koma selama tiga hari.
“Alhamdulillah,,, kamu sudah sadar, minumlah air mineral ie mon abon ini, semoga dengan izin Allah cepat sembuh” tuntun tgk maulana yang menegukkan air kemulutku. Beberapa santri menjenguknya besalaman dan menyedekahkan baju, sarong, beras, dan beberapa rupiah, termasuk tgk ramli yang slalu menemaninya di pokestren. “Siapa sebenarnya kamu nak..?” tanya tgk maulana yang sudah 35 tahun lebih di dayah ini.
“saya teuku sufyan Al-fansury ustadz.. dari lhok gob ulee glee.”
“Astaghfirullah...!!!, apa kamu anak abi asad..? panglima GAM ulee glee..?”
“ iya Ustadz..., kenapa ustadz tau kabar abi dan keluarga saya..?”
“Bersabarlah nak.... menetaplah disini untuk beberapa waktu, di luar sedang tidak aman, ustadz dengar beberapa hari yang lalu ada peperangan di sana, semua keluargamu tewas dibantai..., bersabarlah nak..!! tawakkal kepada Allah...”, “ akkhhh.. akkhhh...” teriak sofyan masyghul..., tgk ramli merangkul mengurut pundakku berharap tidak larut dalam penderitaan dan kesedihan.
Sejak saat itu aku menetap di dayah Raudhatul Muna,tumbuh menjadi muballigh besar dan terus meyerukan perdamaian RI dan GAM serta hak-hak aceh yang di anak tirikan, berharap juga tak ada lagi korban seperti yang menimpa dirinya dan keluarganya dan menimpa aceh
Wa Qul Jaa Al-haqqu wa zahaqal bathil,,,,,ilakh...
Sampai tanggal 15 agustus 2005, dalam perundingan di Helsinky Swedia, Indonesia dan GAM berdamai.
Selesai, hari sabtu, pukul 15,27 wib
6/7/2014, Mudi mesra samalanga

0 Response to "BALADA TEUKU SUFYAN"
Posting Komentar