Tangisan
Diantara Dua Nisan
Teuku
Abie Yoes
Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh Bagian HUMAS Dayah MUDI
Mesjid Raya Samalanga bahwa jumlah korban gempa pada hari Rabu 7 Desember 2016
mencapai 105 orang santri dengan 5 di antaranya kritis. Pihak HUMAS menegaskan
tidak benar jika ada isu tentang santri yang tertimbun Bangunan dan Meninggal.
Sulit menggambarkan kejadian gempa yang berkuatan 6,5 SR pukul 5:03:36
wib subuh itu, ribuan rumah ambruk di daerah Pidie Jaya,ditaksir wilayah Trieng
Gadeng menjadi tempat terparah di Pidie Jaya, sekitar 105 ruko luluh lantak
rata dengan tanah, 12.560 unit rumah mengalami kerusakan parah dan ringan, 45
Masjid roboh dan satu Rumah Sakit Umum Daerah Pidie Jaya juga mengalami rusak
parah, Sedikitnya 104 orang meninggal
dunia akibat gempa. Data dari BNPB menunjukkan jumlah korban meninggal
terbanyak berasal dari Kabupaten Pidie Jaya dengan 97 korban. Selain itu, terdapat 139 orang luka
berat, 718 orang luka ringan, serta 43.529 orang yang mengungsi. Korban yang
mengalami luka-luka dirawat di empat rumah sakit, dua di antaranya berada di
Bireuen dan Pidie Jaya, Pidie.[1]
Lukman
tersungkur memeluk pusara kedua orang tuannya disudut reruntuhan rumah,
sepasang tongkat tergeletak begitu saja di antara dua nisan itu, Lukman hanyut
dalam doa, air mata berjatuhan membasahi maqbarah, rekaman ingatannya terlintas
begitu saja, tentang Ummi dan Abahnya yang sangat menyayanginya, anak semata wayangnya, Lukman
mengingat kemanjaannya kepada kedua Orangtua, tentang penyesalan karena jarang
menjenguk orangtuanya dikampung, mengingat kebiasaan berjumpa Abah dengan
berlari dan memeluk erat Abahnya, kebiasaan mencuri kesempatan mencium pipi
Umminya dan berlari ketika ingin berangkat ke pesantren. Rekaman-rekaman
ingatan itu menghanyutkannya dalam kesedihan yang mendalam, air matanya tumpah
memabasahi Nisan itu, isak isak tangisnya hilang dalam parau suara duka dan
perih, sahabatnya juga tak bisa membendung tangis menyaksikan apa yang menimpa
Lukman, pagi itu begitu hening, tak ada sepatah katapun, yang terdengar hanya
tangisan-tangisan pilu dihempas daun kering berguguran, gerimis gerimis
mewakili segenap perasaan masyarakat
Pidie Jaya, terlebih Lukman.
“Lukman!
Kau tahu Nak!” Pakwa Masykur memeluk Lukman, memangku tubuh Lukman dalam
pelukannya, menenangkan Lukman.
“Ini
adalah bukti Allah masih cinta dan sayang kepada kita hambaNYA, Allah
memberikan musibah agar kita kembali ingat kepadaNYA, Allah memanggil
hamba-hambaNYA agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup, menjadikan Lukman
sebagai anak shaleh yang selalu mendoakan almarhum Abah dan Ummi, Lukman
ingatkan kenapa Abah memintamu belajar di pondok?, jangan tangisi kepergian
mereka, Abah dan Ummi pergi ketempat yang paling baik disisinya, menuju Surga
Allah, seharusnya Lukman bersyukur dan terus mendoakan Abah dan Ummi,
Tabahkanlah hatimu Lukman!, jadilah anak shaleh seperti cita-cita Abah dan Ummi
padamu Nak”
Lukman
menatap mata Pakwa Masykur, lalu memeluk erat tubuh pakwanya seperti pelukan
pelukan bersama Abahnya dulu.
***
Ratusan
LSM dan Relawan turun ke lokasi bencana, menyisir reruntuhan untuk mencari
korban yang tertimbun bangunan, termasuk juga puluhan anggota HAMAS[2]
sedari tadi pagi berada di lokasi gempa di kawasan Trieng Gadeng, Rumah megah
milik Pak Hasan luluh lantak rata dengan tanah, terlihat Buldoser traktor
menggali kepingan dinding yang telah hancur.
“Ustadz
Mus! Kita sudah empat jam menelusuri rumah ini, tak ditemukan satupun korban
jiwa, Traktor juga sudah menggali ke segala sudut tapi tetap belum dapat hasil
apa apa” ketus salah satu anggota HAMAS kepada Ketua.
“Insyallah
kita terus mencari lima menit lagi, Menurut Informasi, ini salah satu rumah
keluarga santri MUDI MESRA”.
Sementara
di Bireun Medical Center, Lukman masih dalam keadaan koma, Iqbal dan juga
beberapa sahabat lainnya berjaga di dekat Ranjang, mereka menyeka air mata yang
menderai dengan sendirinya, bukan tanpa alasan, kaki Lukman Harus di amputasi,
tulang bagian betis dan paha kanannya remuk dihantam besi Kubah masjid,
kepalanya diperban akibat terkena hantaman keras.
“Lukman!,
Bangun Lukman!” Iqbal terus memanggil Lukman sedari tadi
Fakhrurrazi
dan Muksalmina membaca doa dan zikir
keselamatan dan kesehatan untuknya, jemari Lukman mulai bergerak perlahan,
matanya berkedip kedip berat hingga terbuka, melihat kesekelilingnya.
“Syukurlah
Lukman, Ku kira kau keenakan tidur sampai tak mau bangun lagi” Canda Iqbal
sambil mengelap air matanya
Lukman
memerhatikan kakinya lalu menangis terisak isak, menahan suara yang berat, tapi
air matanya terasa perih, Muksalmina
memeluk Lukman, mengusap bahunya.
“Ummi!
Abah!”
“Belum
ada kabar tentang Abah dan Ummimu Lukman, Ustadz Luthfi harus Pulang ke Cubo,
keluarganya juga terkena musibah”
“Dokter!
Sus suuusster!” Lukman hanya bisa berbicara terbata bata, tubuhnya begitu lemah
“panggilkan
dokter, Sulaiman!” perintah Muksalmina
“Hape!”
Dokter memberikan Handphone pada Lukman, jemarinya mulai menekan beberapa tombol
dan memanggil Umminya, tapi tak ada jawaban, sampai beberapa kali tapi tetap
sama.
Air
mata Lukman semakin tak bisa dibendung, Saiful menyeka air mata Lukman dengan
sapu tangan.
***
Jauh-jauh hari
Abah dan Ummi berencana membuat acara Maulidur Rasul sekaligus menunggu
kepulangan Lukman, namun siapa yang mengira musibah besar bertandang dan
merenggut kebahagian yang belum sampai itu. Sudah lama pula Lukman tidak pulang
setelah kepergiannya menimba ilmu agama di sebuah dayah salafi. Sekalipun jarak
antara tempatnya belajar dan kampung halaman tidak terlalu jauh, lukman memang
tidak pernah pulang, ia takut jika pulang akan membuatnya lalai dan tidak bisa
menuntaskan targetnya Mengkhatamkan hafalan kitab Matammimah Aj jarummiyah dan
kitab Syair matan Sulam. Lukman mengamalkan betul nasehat Ustadz Luthfi saat ia
dan sahabat sahabatnya menciptakan halaqah Persahabatan itu, halaqah yang
diberi nama Sahibul Qausar oleh
ustadz Luthfi. Sebagai anak satu-satunya Lukman sangat paham apa yang
diharapkan orangtuanya, menjadi anak yang berbakti, anak yang shaleh, dan hanya
dengan menetap di pesantrenlah ia bisa mewujudkannya, seperti kisah Imam
Syafi’i ketika menuntut ilmu agama.
Sekian waktu ia
tak pulang, hanya sekali dua kali dalam satu bulan Abah dan Ummi menjenguk Lukman
di pesantren, hal itu terus berlanjut hingga tiga tahun. Tiga tahun lebih
kurang pula ia tidak pernah tampak dikampung halaman, kecuali hari libur yang
beberapa hari. Ummi menghubungi Lukman dan memintanya untuk pulang hari acara
kelahiran Baginda Rasul, Lukman mengiyakan. Bahkan Abah dan Ummi sudah berencana
mengundang sahabat-sahabat Lukman untuk membuat
kegiatan zikir-salawat agar lebih meriah. Segala persiapan sudah selesai hanya
menunggu waktu untuk pulang. Lukman seperti merasakan jarak antara ia dan
kampung halaman begitu jauh, padahal hanya tak sampai satu jam.
***
Lukman
berlarian mencari sahabatnya di Masjid, membelah beberapa saf santri yang
sedang menelaah lembaran turast kitab kuning, melirik kiri kanan saf, lalu
menemukan halaqah kecil di belakang mimbar, Halaqah Sahibul Qausar, terlihat Muksalmina dan Hafidz saling berdebat tentang qaedah
qaedah ilmu Nahwu, Saiful dan Fakhrurrazi
membolak balikkan halaman turast kuning itu, sementara Iqbal sibuk bermain
dengan pensilnya, memutar mutar diantara jemarinya.
“Hai....”Sapa
Lukman membuyar konsentrasi mereka.
“kenapa lari
lari dimesjid kayak dikejar Ustadz Abu Rahmat saja, Ini kan belum telat jadwal
masuk ke masjid” cetus Iqbal
“Ente,
ente, ente, ente, ente, pokoknya antum semua harus pergi ke rumah, Ummi buat Khanduri Maulidin Nabi, izin nanti
diurus sama Ustadz Luthfi”.
“beneraaaaann....?
Makan enak dong besok” Iqbal memastikan
“Buat
ente Bal! Spesial sop kepiting[3] Trieng Gadeng buatan Ummi, tapi kuahnya
doang” jawab Lukman di iringi gelak tawa halaqah persahabatan itu.
***
Santri
Halaqah Sahibul Qausar itu duduk
menelaah kitab diantara ratusan halaqah ilmu lainnya dalam naungan
Masjid Poe Teumereuhoem, Saiful dan Fakhrurrazi menyimak betul setiap ilmu yang
diajarkan Ustadz Luthfi, Muksalmina dan Sulaiman menertawakan Lukman yang
menahan ngantuk sedari tadi, entah berapa kali sudah kepalanya eleng hampir
membentur lantai.
“Ya
sudah cukup dulu materi kita malam ini, jangan langsung pulang ke bilik, tapi hafal
beberapa qaedah yang sudah Ustadz
berikan, indakum musykilah? Kalau
tidak ada, udah boleh selawatan” Ustadz
Luthfi memastikan,
“Laiss ya Ustadzi” jawab mereka serentak.
Tidak
dengan Lukman, kali ini dia sudah tak bisa menahan lagi rasa ngantuknya,
tubuhnya sudah menyatu dengan lantai masjid, dalam tidur Lukman bermimpi melihat
rumahnya di hias semedekian rupa, langkah kakinya memasuki rumah diiringi selawat
barzanji, kawannya satu persatu menyusul dari kedua sisinya hingga sejajar
menyerupai saf yang berjalan, Nadia Rahmah yang menunggu di daun pintu
tersenyum pelan lalu bersembunyi dibalik tubuh Ummi dan Abah, ia bahkan tak
menyangka Rahmah ada disana
“Pakaian
Ummi dan Abah putih sekali....? Punya Lukman mana?” teriak Lukman
Kedua
orang tuanya hanya menggeleng kepala, lalu kawan di sisi kanan dan kirinya
mulai menjauh,menghilang satu persatu, Rahmah juga menghilang di belakang Ummi,
berganti beberapa pria berpakaian serba putih menarik narik tangan Ummi dan Abah,
Lukman mulai berlari mendekati ingin menolong, tapi kedua orang tuanya menolak,
meminta Lukman pergi menjauh, matanya mencari seseorang, “kemana Bang din? Bang
Diiiiiinnnnnn!, Kak Syaaaahhhhhh!, Neutulong
Ummi ngeun Abah!” Lukman terus meraung mencari bantuan, orang orang entah
dari mana kedatangannya mulai berlarian tak beraturan, mereka berteriak keras
dan lantang“Ka minah!, ka plunnngggg!!!!![4],
Lukman masih ingin mendekati Abah dan Umminya, tapi orang tuanya Ummi melar jauh,
“Kaplunggg....!!!!!” Ka minaahhhhhh!!!!!”.
Lukman
tersadar dari mimpi buruknya, kepalanya terasa berat, keringat membasahi
sekujur tubuhnya, dia melihat kesekeliling masjid, gemuruh suara tanah dan
pondasi menggelegar, suara-suara pecahan kaca, santri-santri berlarian
berteriak tak karuan, bumi bergoncang hebat, hentakan-hentakan keras dan
kencang menggelegar, retakan dimana-mana, perintah berlari dan menghindar
terdengar dari segala arah, “Lukmaaaaaannnnnnnnn..!!!
awasssssssssssssssssssss....!!”
Matanya
berkunang kunang dalam kegelapan, melihat sesuatu jatuh dari atas masjid,
sesuatu yang akan menimpanya, tumpukan besi kerangka kubah mesjid Poe
Teumereuhom,
“Lukmaaaaannnnn...!!”
Teriak Iqbal menutup matanya, sementara Lukman hanya bisa melindungi kepalanya
dengan mengangkat tangan, “Gereuuuuubbbhhhhuuuummmmmmmm” suara hantaman keras
kerangka Kubah membentur lantai mesjid, pecahan kerangka kubah terpental jauh, beberapa
santri terjebak dibawah tumpukan kerangka kubah.
“Lukmannnnnnnn..!!!”
Air mata Iqbal jatuh menderai, kakinya berlari mendekati tumpukan besi itu,
mencari sosok tubuh yang terkulai tak berdaya, tangannya menarik besi yang
menghalangi, meraba tubuh Lukman, menarik perlahan, beberapa santri ikut
membantu, mengangkat tubuh Lukman ke beranda masjid.
“Lukman!
Sadar Lukman!, sadarlah Lukman!, Lukmannnnn...!!!, kakimu Lukman!, khek khek” Iqbal
terus menangis, berteriak membangunkan sahabatnya, hampir sekujur tubuh Lukman
dipenuhi luka dan darah, kakinya terkulai tak bertulang, “khek khek.....
Lukmannnnn....!!!!” .
***
“Semua
hentikan pencarian!, kita pindah ke lokasi baru” perintah Ustadz Mus yang
melihat jam ditangannnya, Buldoser dimatikan, keringat para anggota HAMAS
membasahi rompi, beberapa langkah berayun meninggalkan reruntuhan rumah Pak
Hasan, tiba-tiba terdengar suara nada dering
dalam bongkahan Rumah.
“Berhenti!,
kalian dengar itu?, suara Handphone”. Ustadz Mus meminta anggotanya menyimak dimana
asal suara itu
“Kriiinnnnnngggg,
Kriiinnngggg” para relawan HAMAS mulai mendekati arah suara sampai tepat
dibawah pijakan kakinya.
“Ustadz!
Disini suaranya”
“Ayo
cepat gali, kemungkinan ada seseorang yang terkubur reruntuhan”
Relawan
HAMAS terus menggali, membongkar bongkahan itu.
“Astaqfirullah!
Ustadz!” teriak salah satu anggota melihat dua mayat tertimbun, luka dan darah
menutupi wajahnya.
“Segera
evakuasi mayat ke tenda darurat, sambil menunggu datang Ambulan” perintah
Ustadz Mus.
Tak
jauh dari mayat Ibu Nurul tergeletak handphone yang masih berbunyi
“Abaaaaah! Emaaakkk!” suara berat Lukman dari
seberang sana terdengar lirih memanggil
“Maaf,
ini dengan Ustadz Musliadi dari HAMAS, sekarang kami berada di reruntuhan rumah
korban, Apa ini keluarganya?”
“Abaaahhhhh!”
suara Lukman menghilang dalam isak tangisnya, tubuhnya lemah tak berdaya.
“Hallo
Ustadz!, Ustadz! Ini sahabat Lukman
anaknya Pak Hasan, sekarang Lukman di rumah sakit BMC, Ustadz! Ustadz!
Bagaimana keadaan orangtuanya? Hallo ustadz masih disana” Muksalmina mengambil alih handphone ditangan Lukman.
“Maaf
Teungku! Kami menemukan dua korban meninggal, menurut saksi masyarakat itu
jasad almarhum Pak Hasan dan Ibu Nurul Fathany”.
***
Innalillahi
wa innailaihi rajiun.
Jumat.
06 Januari 2017 | Samalanga - Aceh
[1]
https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Pidie_Jaya_2016
[2] HAMAS adalah Organisasi Himpunan Mahasiswa dan
Santri yang bergerak di bidang dakwah lintas batas dan pedalaman dan juga kegiatan
kemasyarakatan Organisasi ini berada dibawah Yayasan Al Aziziyah.
[3] Komisi Fatwa MUI memutuskan bahwa kepiting, adalah
binatang air baik di air laut maupun di air tawar dan bukan binatang yang hidup
atau berhabitat di dua alam : dilaut dan didarat Ummia mengonsumsi
Kepiting adalah halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi
kesehatan Manusia.( http://www.piss-ktb.com/2012/02/306-halalkah-kepiting-dan-semacamnya.html)
[4] Ka minah : Awas, ka Plung : lari! (bahasa
Aceh).

0 Response to "Tangisan Diantara Dua Nisan"
Posting Komentar