Seteguk Saja! Jangan Selautan! Aku Takkan Bisa Menampung Rindumu (Teuku Abie Yoes dengan Nayl)



Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Salam Syahdu
Pada sapa yang kutitip dalam kata
Ku tegur dirimu dengan senyum
Bolehkan sekedar ku kenali dirimu

Nayl (Banda Aceh)

Salam kembali
Ku sambut dengan seutas senyum untuk waktu yang izinkan tutur kita bersambut

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Berbuah Senyum Berselimut merah mengembang
waktu berganti
Ku harap sapa menumbuhkan teman

Nayl (Banda Aceh)

jika air dan udara saja bisa ku sebut isyarah
bagaimana senyum yang bertutur malu

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Jika udara mengeringkan sapaku
Bersebab malupun
Aku tetap ingin mengenal dirimu lebih dari nama itu

Nayl (Banda Aceh)

Tak ada yang kering
Bukankah setiap sapa selalu saja bersambut?
Aku adalah kata
Takkan kau kenali kalau rak tahu huruf.

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Adalah air kusebut jawab sapaku
Dari keringnya tuturku
Kau adalah kata dari fakir huruf dan tanyaku
Jika bersambut, Selamanya sapa mesti berbalas ia

Nayl (Banda Aceh)

Tak kesahlah ragu rindu perkara sapa
Aku hujan yang tak pernah berpaling dari bumi yang memintaku datang

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Jika hujan menderai malam-malamku
kemana kucarikan danau tuk menjamu dirimu
Sedangkan yang ku miliki
Adalah secangkir usang yang lama tak diisi

Nayl (Banda Aceh)

Bukankah hujan mampu mengisi lebih dari secangkir usang?
Aku bukan tamu yang rindu dijamu,
Bahkan akupun tak punya bingkisan untuk bayaran jamuanmu

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Hingga aku menangisi kebodohan ini
Cangkir usang pun retak kerana
Tapi engkau jawab dahaga dari kering yang kurasa
Bahkan aku tak mengharapkan apapun kecuali kata dari gadis bertubuh Puisi sepertimu

Nayl (Banda Aceh)

Aku pun retak
Bagaimana aku betutur kata
sedangkan aku harus sesugukan di altar itu sendiri
Aku tak bisa
Karena tak ada gadis lain yang mampu menggantikan tangisku
Maka cukup aku

Teuku Abie Yoes (Aceh jeumpa)

Lalu raiblah tangismu jua
Jika tak ada gadis lain
Maka rebahkanlah pilumu dalam sajak-sajak kita
Kau takkan cukup jika seorang diri
Bukankah hujan akan mendatangi bumi?
maka cukupkan sesunggukanmu menjadi semi disini

Nayl (Banda Aceh)

Tapi tidakkah kau tahu semi itu butuh hujan,
Kemarau itupun butuh hujan
Maka ini juga perkara tangis yang tak ingin ku cukupkan
Aku tak bisa berpaling dari sebenar-benar basah untuk tiba-tiba terik.
Merebahkan pilu di dalam dekapan doa lebih indah

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Bersejarahlah pada pilunya Qais dan duka Laila hingga binasa
bersebab tutur yang bersembunyi dibalik senyum menyiksa
Tetaplah hujani keumarau bumi
Berulangkali
jika menanti semi tentu hujan mengawali
Bukankah dua insan tengadah doa dalam dekapan jauh lebih indah

Nayl (Banda Aceh)

Sendiri dalam doa akan lebih dalam indahnya
Aku tak bisa berpaling dari setiap gambar yang telah ku pahat
Maka bila mereka berkata aku lebih mendamba rasa sendiri itu
Itu sama sekali benar
Karena untuk meluaskan rasa, aku tak perlu bejana
Hatiku lebih luas untuk seluas rasa itu.


Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Aku berpaling pada serabut luka yang mengakar
Membenci belukar duka yang bersemak
Ku pasrahkan pada hati yang luas itu Nayl!
Karena memahat siksa yang terlukis jauh lebih tersiksa
Dari menderus luka yang menanti pulih
Ini hanya tentang hujan menyirami kesembuhan
Apakah aku masih tetap secangkir usang nun retak
Hingga berkeping pecah ditelan kemarau ini?

Nayl (Banda Aceh)

Entahlah!
Aku lelah bertutur perihal usang yang sedari dulu usang hingga nanti
Bahkan hingga aku tak lahi menyeduhkan kopi di cangkir usang
Aku bukan kemarau, hujan, angin, ataupun air.
Aku hanya seonggok Rindu yang bertahan dari aroma malam yang menusuk.
Aku hanya membaca isyarat dari hujan yang tak pernah mampu dipahami laut.
bahwa tak ada lain kecuali laut yang iklas menampung rinduku yang mengguyur

Teuku Abie Yoes (Aceh Jeumpa)

Dan aroma itu tetap akan menusuk luka dan siksa
Aku adalah isyarah keiklasan dari segala keiklasan
Bersebab pasrah malu menjadi cangkir yang takkan pernah sanggup menampung rindumu selautan
Seduhlah seteguk saja sekalipun aku telah usang ditelan asa dan masa berkepanjangan

Jumat. 10 februari 2017

Antara Aceh Jeumpa dan Banda Aceh
Aku mencari seteguk dalam kesepian malam




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seteguk Saja! Jangan Selautan! Aku Takkan Bisa Menampung Rindumu (Teuku Abie Yoes dengan Nayl)"

Posting Komentar