Mozaik Kerinduan

Mozaik Kerinduan


Oleh: Teuku Abie Yoes

Darah bercucuran dikaki Fatma yang masih berlari melangkah menjauhi dua serdadu berpakaian  loreng yang mengejarnya.Air matanya menetes, mengaduh kesakitan bersama tetesan darah luka disekujur tubuh yang menganga “TTTHHHAAMMMMM” hantaman gagang senjata keamanan Negara yang entah dari mana sudah berdiri di depan Fatma,
“AAAAHHHKKKHHH” ia mengaduh kesakitan, tersunggkur berguling kesemak-semak tepi sungai Lhok Goeb,
“PHAMM, PHAMM” tamparan keras melayang diwajah Fatma, mengeluarkan darah dari mulutnya, Cut Fatma kembali meraung “AAHHHKK”
            “seret tubuhnya kebelakang semak-semak itu” perintah salah seorang serdadu.
“lepaskan, ahhhkkk…, lepaskan tanganku ahhhkkkk” tubuhnya diseret kebelakang semak, kakinya menggelepar melawan “kapeleuh Agam paleh na
“ahhkkk, THHAAMM”  kembali tamparan melayang diwajahnya
“ahhkkk, khekk kkheekkk” air matanya mengalir bercucuran serasa desah kesakitan, tenaganya mulai melemah, “ahhkkk” lehernya dicekik sembari belati dimainkan diwajahnya, “mau pergi kemana kamu manis sayang? hahahaha”
Kaki fatma menendang-nendang tapi sia-sia belaka kekuatannya hilang tak berdaya
“hahaha hahaha, mau apa kamu HAH?” dua serdadu berdiri memandang napsu ketubuh fatma yang setengah sadar.
“kita perkosa saja dara Aceh ini, hahahaha”
“ lepaskan khekkk, khhheekkk, lepaskan aku haram jadah”
“Nyak Cut !!!  Nyak Cut !!!! Nyak Cut” teriakan Sopyan memanggil-manggil adik bungsunya,  membangunkan Cek Ram dibilik serawak, keringat bercucuran membasahi tubuh serta pakaian yang menyelimutinya
 “Yan, Yan, bangun Yan, istiqfar” tegur Cek Ram sambil meraup wajah Sofyan dan mengelus rambutnya, tapi Sopyan masih melawan bergerak tak beraturan “NYAK CCCUUUUUUTTTTTT” Teriakan sofyan menyadarkan dirinya dari mimpi
“Yan kenapa kamu sampai sandrong begitu” penasaran Cek Ram.
Sofyan mengusap wajahnya yang becucuran keringat, mimpi buruk tentang Fatma dan keluarganya yang kabarnya dibantai selalu mengganggu jiwanya, segala tempat yang menyangkut keberadaan keluarganya sudah dikunjungi tapi hasilnya nihil.
“Istiqfar Yan..!!!  serahkan semuanya kepada Allah, tabahkan hatimu Yan,”
            “Cek, Nyak Cut diperkosa Cek, Nyak Cut … aaaku aaku tak bisa melindunginya Cek, aku tak bisa melindungi keluargaku”
“Astaqfirullah Yannnn, istiqfar….
itu hanya mimpi, persiapkan dirimu buat pengajian Tastafi besok ke Malaysia, jangan sampai kegelisahan yang menimpamu meganggu kepergianmu besok, para jamaah sudah menantimu Yan!!!” tegas Ramli menyadarkan Sofyan.
 “Sudahlah, sudah beberapa kali kamu mimpi buruk tentang keluargamu, berdoalah untuk mereka semua selamat dunia dan  akhirat”
“Cek, aku ambil wudhuk dulu ingin shalat tahajjud, hanya dengan shalat aku bisa mendapatkan ketenangan”
“ya sudah, semoga lekas membaik yan”.    
  
            Pangeran malam masih menyelimuti Indonesia bagian barat dengan jubah hitamnya, langkah sofyan menuju bak di gang kulah, satu persatu anggota wudhu dibasuh, langkah kakinya berlanjut menuju maqbarah almarhum Allahumma’ firlahu Abon Abdul Aziz bin Muhammad Shaleh, dihampar sajadah blue dark pemberian Dokter Mauliza, gadis hafizah dari Malaysia yang dikenalnya setahun lalu, Sofyan khusyuk bersama takbiratur ihram, air matanya menetes lembut bermunajat mencari keridhaan Allah, mendoakan semua keluarganya dalam lindunganNYA.
            “YA ALLAH, Almarhum yang menjadi kekasihMU terbaring dihadapanku, aku menyadari dengan dosa yang menyelimuti seluruh masa laluku, aku bertaubat ya Allah, aku merintih memohon keridhaanMU, memohon ketenangan hati dari yang melalaikan, ketenangan jiwa dari yang menyibukkan, memohon keselamatan semua keluargaku ya Allah, memohon ketenangan dari kegundahan yang datang dari syaitan ya Allah, dengan keberkatan almarhum hambaMU ini, aku meminta, kabulkanlah ya Allah, istajib du’a ana, istajib ya Allah, Sebatangkara hidup didunia ini, tidak tahu entah kemana orang tua dan saudara-saudara, jika masih hidup pertemukanlah ya Allah, hamba sangat merindukan mereka, jika orang tua hamba dan saudara-saudara hamba sudah meninggal, izinkan hamba menemukan tempat bersemayamnya yang terakhir didunia ini,
Ya Allah istajib du’a ana ya Allah”.

---
Pesawat lepas landas meninggalkan bandara Sultan iskandar muda dan Abu Syech yang sempat melepaskan keberangkatan  Sofyan menuju ke Kuala Lumpur Airport, rombongan dari Institute Quran Kuala Lumpur “IQKL” telah menunggu menyambut kedatangan sofyan, kertas karton bertuliskan nama ustadz sofyan dan rombongan dari aceh dilayang layangkan didepan pintu keluar airport.
“Ustadz Sofyan ya ?”
“Iya Ustadz”
”Apa kabar Ustadz kee?”
            “Alhamdulillah Ustadz Masykur sehat, syukran katsiran buat jamuannya”
“afwan tak apa apa lah Ustadz, itu pun sudah kewajiban saye, kite nak berangkat pusing pusing Bandar ki el dulu kee atau lansung balik ke institute je ?”
           
“Terserah Ustadz Masykur saja, tapi baiknya kita putar sekejap, badanku pun belum terasa capek”.
            Mobilio putih melaju cepat melintasi kota Jiran, telihat sepasang menara kembar petronas yang pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998—2004, sebelum dilampaui oleh teipe. Menara yang menjadi kebangaan Malaysia, tidak banyak telihat baliho besar seperti di Indonesa, kota ini rapi dan bersih, melewati jalan P Ramlee dan langsung menuju keInstitute Quran Kuala Lumpur dijalan Damansara.
“oya, Ustadz
!, rehatlah sekejap, insyallah besok kita mulai pengajiannya, saya tak sudi kalau terjadi apa apa dengan Ustadz, malu saye dengan Abu Syech nanti., iya kee”
            “insyallah tidak apa apa Ustadz, syukran qaman”
“afwan, Firza tolong kamu antar Ustadz Sofyan ke biliknya” perintah Ustadz Masykur

---

            Masjid IQKL terlihat megah nan agung, kaligrafi terukir indah diwarnai cahaya keemasan, beberapa tiang penyangga menopang masjid untuk para jamaah yang dibagi menjadi dua bagian dengan tirai terbentang ditengahnya.
            “Jadi dalam akad nikah baru dianggap sah jika rukun-rukunnya terpenuhi secara sempurna, salah satunya wali”  tutur  Sofyan menyampaikan pengajianya.
“Asalamualaikum Ustadz, saye Lia Mauliza”, suara itu datang diballik cadarnya.
Sofyan tersentak mendengar nama gadis yang hilang kabarnya sejak setahun yang lalu, apakah itu dia?
“Kalau boleh saye nak tanye kepada ustadz, apabila wali terdekat (wali aqrab) menolak untuk mengkahwinkan anak perempuannye maka siapa ke yang berhak menikahi anak perempuannye itu Ustadz ?”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” balas ustadz sofyan mencoba menjawab

”Bila seorang perempuan meminta kepada walinya untuk dinikahkan dengan lelaki yang sekufu kemudian wali aqrabnya menolak, maka untuk mengkahwinkan, maka bila penolakan satu kali atau dua kali maka yang menikahinya adalah hakim, bila penolakan tersebut terjadi sampai tiga kali maka wali aqrab menjadi fasik, maka saat itu hak wali berpindah kepada wali ab’ad.
Penolakan wali tersebut harus sudah stubut pada hakim dimana hakim telah mem
anggil wali dan calon suami untuk dikahwinkan namun walinya tidak menurutinya, namun bila wali lebih banyak ta’atnnya maka penolakannya untuk mengkahwinkan anak perempuannya tidak dijadikan fasiq,tapi kalau wali menolak dengan lelaki idaman perempuan  yang tidak sekufu  dan berencana mengkahwinkan dengan lelaki sekufu yang lain maka penolakan tersebut tidak menyebabkan hilangnya wilayah dari wali”.
 “syukran ustadz”.       
                  Seseorang berdiri disaat para jamaah meninggalkan masjid, matanya berkaca-kaca menangis pelan dibalik cadar biru toska, menatap Sofyan yang sedang berbincang dengan pimpinan IQKL.
            “Bang Yan, khheeekkk…,khhhekk….,Bang Yan”
Sofyan memutar pandangannya mencari suara yang tak asing didengarnya, panggilan yang akrab ditelinganya dinegeri jiran ini, melirik sampai mata terhenti pada seorang gadis yang menderai air matanya dibalik cadar.
            “Bang Yan, nyoe nyak Cut Bang
subhanallah, pue betoi nyoeNyak Cut
            “iya Bang” jawab Fatma sembari mebuka cadarnya, setengah berlari Sofyan merangkul Fatma, menangis sejadi-jadinya.
“kemana kamu selama ini Nyak Cut”
            “Bang Yan yang kemana” dilepasakan pelukan antara dua saudara itu, Sofyan menatap dalam-dalam wajah Fatma yang lebih cantik dan putih, merangkul kembali lebih erat, Fatma masih terus menangis.
“Nyak Cut jangan pergi lagi ya”
            “Abang Yan sehatkan, Abang udah jadi Teungku Malemsekarang, Nyak Cut bahagia bisa jumpa Bang Yan disini”
“Nyak Cut juga sudah mirip Putroe Phang”
            “Abang… kkhhhkkk… kkkhhhhkkk….”
Merangkul Sofyan begitu erat seakan tak mau lagi berpisah setelah sekian lama hidup sebatang kara tanpa satupun keluarga.
“Gimana kabar Abi dan Ummi Nyak Cut?”
            “
Entahlah Bang, Aku hanya mendengar Abi dan Ummi meninggal malam  itu Bang, kami semua dibawa dengan mobil Reo Panser entah kemana, ketika sadar aku sudah berada dikamar rumah sakit setelah beberapa hari koma,hanya kabar angin ditemukan banyak tengkorak dan tulang belulang di bukit tengkorak Cot girek”
“Na’uzubillah.. ya Allah allahumma’ firlahum warhamhum…” berita itu seakan membuat tubuh tulang sofyan lepas dari persendiannya.
“Lalu bagaimana Nyak Cut bisa disini?”

“Salah seorang dokter dari Malaysia merawatku selama dirumah sakit, dia mengurus biaya pengobatannya dan lainnya, setelah mengetahui sedikit tentang nasib yang menimpaku, dokter Lia mengajakku Ke Malaysia.
            “nyak cut ? apa kedatangan Abang kesini ada hubungannya dengan Nyak Cut ?”
“iya bang, ketika Dokter Lia Mauliza ada diAceh, Nyak Cut meminta tolong untuk mencari keberadaan Bang Yan”
“Lia ada disini ?”
            “tadi yang barusan bertanya itu
Dokter Lia, Bang!, anak pimpinan IQKL, kawan akrab Nyak Cut, mungkin sebentar lagi akan jadi kakak ipar Nyak Cut” Sofyan menatap terkejut dengan ucapan Fatma barusan.
“Apa maksud NyakCut?”
Fatma berbisik pelan ditelinga Sofyan “nanti Nyak Cut cerita tentang Dokter Lia yang sering menyebutkan nama Bang Yan setiap hari, dia benar benar mencintai Bang Yan, sudahlah yang penting hari ini Nyak Cut gak kehilangan lagi Bang Yan”
Merangkul erat tubuh Fatma, mengusap ubun ubunnya “Tak akan lagi Nyak Cut”.


wassalam
Glossarium

Kapeuleu agam paleh na            : lepaskan aku lelaki bangsat
Dara                                          : gadis
Blue dark                                  :  biru tua
Nyoe                                         : ini
Pue betoi nyoe                          : apa betul ini
Teungku malem                         : ustadz kondang
putroe                                        : putri

Diselesaikan pada hari sabtu, 3 januari 2015
Disudut gang Al fath

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mozaik Kerinduan"

Posting Komentar