Karena Akbar
Nailur Rahmah
“Allahu Akbar, Allahu Akbar” suara azan yang dikumandangkan oleh Teungku Taleb seorang imam masjid membuat ayunan langkah Hamid semakin cepat, mukanya tampak kecut dan masam sama halnya dengan aroma tubuhnya yang bermandi peluh.
Terdengar bisikan kecil dari Hamid menyahut azan “Allahu Akbar”. Ia sampai dirumah, tepat di depan pintu, Abu sudah berdiri berkacak pinggang. Hamid langsung mencium tangan Abu.
“Maafkan Hamid, tadi Hamid membantu Fatimah mengambil sandalnya yang dilempar ke parit oleh Uma, Abu”.
Abu memang sangat menjaga anak bungsunya Hamid. Bagaimana tidak, Hamdan abangnya Hamid sudah sangat mengecewakan beliau. Sebagai seorang anak, Hamdan memang anak yang pandai dan selalu saja menjadi juara kelas, hanya saja ia sering kali ketus dan berkata asal kepada Abi dan Umi. Sebagai orang tua, Abu sudah beberapa kali member peringatan. Tapi semua itu malah membuat Hamdan semakin melunjak. Bahkan pernah suatu ketika Hamdan di pukul Abu dengan rotan, sampai punggungnya memerah. Sejak itulah Hamdan keluar dari rumah. Ia begitu percaya dengan kemampuannya lalu ia pergi merantau entah kemana, tak pernah ia mengirim kabar ke kampung. Inilah mengapa Abu benar-benar menutup hati pada si sulung ini.
“Lailahaillallah..”
Azan sudah berakhir. Dua bapak anak itu membaca sebait doa setelah azan, barulah Abu menjawab.
“Sudah, kau pergi mandi sana dan lekaslah shalat. Bukan sekarang waktunya untuk berbicara, keburu gelap.” Ujar Abu sembari memperbaiki letak pecinya dan segera berjalan menuju masjid.
Seketika Hamid langsung ke sumur bersiap untuk menghadap sang Khaliq, ia benar-benar beda dengan Hamdan abangnya. Bahkan dari hal-hal kecil sekalipun, seperti menyahut azan. Ini juga yang membuat Abu seringkali marah dan mukanya memerah dulu ketika Hamdan kecil masih di rumah, ia tidak beranjak dan asik dengan komik-komik horornya saat azan terdengar bahkan sama sekali tidak dihiraukannya. Berbeda dengan Hamdan yang dulunya anak rumah, Hamid kesehariannya selalu saja kelayapan ke setiap semak atau hutan. Tapi hebatnya, Hamid tidak pernah ketinggalan shalat. Bahkan ia tidak pernah absen menyahut azan. Inilah kenapa Hamid selalu mendapat nilai plus dari Abu.
Setelah shalat Hamid menyantap makan malam dengan lahap bersama Abu dan Umi sebelum berangkat ke balee untuk mengaji.
“Hamid harus jadi anak yang benar. Jangan sampai kau salah kaprah macam abang kau itu, tadi hampir saja Abu meraut rotan. Burung sudah pulang ke sangkar, kau masih macam anak liar di jalan, macam tak punya rumah.” Ujar Abu disela suap nasi yang dilahap.
Dengan jailnya ia menjawab, “Baiklah Abu, tenang saja. Menolong orang kan, tidak selalu perlu di tolong saat pagi hari. Kalau mereka butuh di tolong saat magrib bagaimana ? apa kita biarkan saja ? Jawab Hamid sekaligus balik bertanya.
“Hamid…” tegur ibunya dengan kening yang berkerut, sebagai kode peringatan bahwa Hamid telah lancang menyahut Abu.
“Bukan begitu Mid, yang Abu maksud bukan tidak boleh menolong orang saat magrib, boleh saat pagi. Tapi kau harus pandai-pandai menjaga waktu.” Sahut Abu sembari mencuci tangan ke dalam sebuah mangkuk kecil, matanya menatap lebih tegas.
Hamid mulai sadar kalau Abu serius, tak ajak main-main. Hamid pun merasa bersalah telah menjawab asal nasihat Abunya tadi.
“Iya Abu, besok Hamid takkan ulangi lagi”.
“Kau jangan berulah seperti abangmu, kau lihatlah dia sekarang, anak tak berbudi, tak ada orang yang suka sekalipun ilmunya berkarung.” Abu mulai bertutur pelan, matanya seakan menerawang ke ambang masa lalu.
“Tak ada yang tau dia berpijak di bumi mana sekarang, jangankan orang lain, saya abunya saja takkan hiraukan anak seperti itu. Katanya dia pandai dan bisa hidup sendiri, tapi entah ada Abu lain di luar sana yang mau menjadi ayah bagi anak pandai namun tak berbudi”.
Mendengar pembicaraan Abu mulai serius, Umi langsung menyela, “Ini sapu tangannya Abu, Hamid lekaslah kau ke balee, jangan sampai kau kena hukuman dari teungku lagi. Selalu saja kau terlambat berangkat.”
Hamid langsung meneguk air putih, tak lupa ia mencium tangan kedua orang tuanya.
“Assalamu’alaikum, Abu Umi.”
***
“Kau untuk apa membantu Fatimah,? Seperti pahlawan kesiangan saja kamu,” gertak Uma sepulang mengaji.
Hamid menjawab tegas, “Aku hanya membantu Fatimah, kau ini jailnya kelewatan, sudah magrib kau malah melempar sandalnya ke parit.”
“Awas kalau kau ikut campur lagi”, ujar Uma sembari mendekatkan mukanya kearah Hamid. Lalu pergi.
“Astaghfirullah, kenapa Uma tak sadar-sadar.” gerutu Hamid sembari menyusuri jalan setapak yang mulai sunyi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 wib. Selebihnya suasana di kampung Lawang memang seperti kampung mati. Hamid melangkah di jalan setapak yang remang-remang dan sawah di sekeliling. Hanya terdapat beberapa rumah disitu, termasuk rumah keluarga Hamid. “Sreek..” kaki Hamid tak sengaja menyepak sebuah bungkusan di depannya. Bungkusan itu tidak nampak lusuh.
“Ini apa ya ? tapi Hamid tidak boleh membukanya.” Gumam Hamid sembari matanya menelisik kearah sekitar. Siapa tau pemiliknya belum jauh pergi.
Lalu Hamid melihat di ujung jalan berbatu, ada bocah yang sedang menyingkap semak-semak, melihat kesana kemari, dan mencoba memungut setiap kantong hitam yang ia temui di pinggiran jalan, lalu membuangnya kembali, ia kelihatan sedang mencari sesuatu.
“Itu sepertinya pemilik bungkusan ini, sedari tadi ia memungut setiap bungkusan yang tercecer.” Lalu Hamid melangkah kea rah bocah itu, tapi tiba-tiba ia seakan tersentak dan menghentikan langkahnya. “Astaghfirullah, ini sudah larut, kalau Hamid kejar bocah itu pasti Hamid akan di marahi Abu.” Ia menggaruk-garuk kepalanya, bingung harus mengejar bocah itu atau pulang kerumah karena sudah larut malam. Ia berada dalam pilihan yang serba benar.
“Tidak boleh kelayapan pulang mengaji, kau harus langsung pulang untuk belajar, jangan setiap saat yang kau tahu hanya main, main, dan main.” Terngiang petuah yang selalu di peringatkan saat ia hendak berangkat mengaji.
Lalu Hamid mengambil keputusan, berpikir terlalu panjang hanya akan membuatnya semakin terlambat pulang, dan pemilik bungkusan itupun akan hilang di telan kelam.
Ia berlari sembari memanggil bocah itu, “Dik, berhenti lah !” sambil melambai-lambaikan tangan kearah jalan berbatu itu. bocah itu melihat dari kejauhan, ia terheran-heran siapa gerangan malam-malam begini memanggilnya.
“Dik, benar ini punyamu?” Tanya Hamid dengan napas tersengal, ia baru saja berlari kencang. Meskipun hanya dengan jarak 100 meter, tapi tetap saja napasnya naik turun seakan baru selesai lari marathon.
Bocah tersebut segera membuka bungkusan itu, “Ia bang, terima kasih, Alhamdulillah ya Allah.” Terlihat rona bahagia di wajah bocah itu, ia sedikit meloncat kegirangan. Lalu tiba-tiba ia bersujud ke tanah sebagai tanda syukur, entah seberapa berharganya bungkusan itu bagi bocah ini. Namun, ia benar-benar ingin mengeluarkan air mata, matanya berkaca bening.
“Huh, begitu berharganya bungkusan itu baginya, meski bagiku mungkin hanya barang bungkusan.” Gumam Hamid dalam hati.
Penampakan yang mengharukan, tapi malam benar sudah kelam. Aroma dingin malam semakin menusuk dan kesunyian pun kian melebur bersama liuk ranting di pinggir parit.
“Siapa namamu dik? Tadi saya temukan bungkusan itu di samping parit, di ujung jalan yang dekat dengan sawah sana.” Tanya Hamid.
“Saya Akbar bang, ini obat untuk Abu. Sesak napasnya semakin parah akhir-akhir ini.” Jawab Akbar dengan mulut bergetar, tampak raut kesedihan di wajahnya.
Hari sudah kian kelam, sedangkan kedua anak itu makin larut dalam pembicaraan hangatnya sambil duduk di rerumputan. “Besok abang akan main ke rumah Akbar, sekaligus jenguk Abumu. Kau jangan sedih, obatnya sudah ketemu, lekaslah pulang. Malam pun sudah larut, jangan sampai Abumu kumat.” Ujar Hamid kepada Akbar sembari mengusap-usap kepala bocah itu. Tampak ia begitu lenyap dalam cerita Akbar sedari tadi.
Akbar mencium tangan Hamid dengan begitu takzimnya. Seketika Hamid tersentak, ia yang baru kelas VI SD sudah ada yang menciumi tangannya. Sebagai anak bungsu, Hamid memang tidak pernah disalami sebagai seorang abang, tapi malam itu ia merasa seakan Akbar adalah saudara kandungnya sendiri. Tapi tidak mungkin , Hamid hanya memiliki seorang saudara itupun abangnya yang sampai saat ini mereka tidak pernah bersua. Ia hanya mendengar cerita dari Abu tentang abangnya itupun saat iya diomeli karna berbuat salah. Pernah sesekali Umi yang menceritakan tentang Hamdan . abangnya tak selamanya buruk seperti yang digambarkan Abu selama ini. Menurut cerita Umi, sekarang Hamdan sudah berusia sekitar 30 tahun. Pastilah ia sudah berkeluarga layaknya rekan sebaya Hamdan dikampung.
Akbar berlalu pulang sambil berlari kecil. Hamid langsung teringat Abu dan Umi dirumah. Ini sudah begitu gelap. Hamid telah melanggar peraturan rumah. Dan kali ini dia memang sudah keterlaluan. Hamid berlari kencang menuju rumah, suara napasnya yang naik turun sejalan dengan suara langkah kaki.
Sesampai di rumah, “Assalamu’alaikum.” Hamid mengucap salam sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam.” terdengar sahutan dari dalam diikuti dengan derap suara langkah kaki yang buru-buru menuju pintu.
“suara Umi yang menjawab salam, lalu Abu kemana ?” gumam Hamid, ia berkeringat. Tidak hanya karena berlari kencang, tapi juga karena kepanikannya.
“Driiit…” suara derit pintu. Lalu muncul Umi dihadapannya. Hamid mencium tangan Umi. “Ya Allah Hamid, baru saja tadi magrib kau diperingati, ini jam 12 malam nak. Kemana saja kamu?” Umi menyambut Hamid dengan pertanyaan yang cukup sulit dan butuh waktu lama untuk menjawabnya.
“jangan panik Umi, Abu mana mi?” Hamid balik bertanya.
Seketika langsung terdengar suara Abu dari belakang Hamid, “Dari mana kamu mid? Kau minta Abu ini marah? Kau mau Abu mati berdiri karena anak seperti kamu?”. Kali ini Abu benar-benar marah, suaranya bernada tinggi, keras, matanya merah, dan tangannya menggenggam sebilah rotan.
Hamid yang tadinya mengira hampir selamat dari Abu ternyata salah besar. Ia telah mengundang amarah Abu, sama dengan belasan tahun silam. Ya, amarah yang sempat meluap sampai Hamdan benar keluar dari rumah.
“Ham..Ham..Hamid tadi..” jawab Hamid gemetar benar.
“Plak..plak..plak..” tak sempat berkata panjang, rotan itu sudah mendarat di punggung Hamid. Hamid seketika menjerit kesakitan “Ahaa..ahaa.. aduuuuhh.. abu, ampun abu.. ampun.”
“Plak..plak..plak..” Abu melanjutkan ayunan rotannya. Sedangkan Umi sudah menjerit disebelahnya. “Abu, hentikan ! jangan kau ulangi kesalahan yang sama..Umi mohon Abu.”
Hamid terjatuh ke lantai, ia kehabisan daya, Abu yang sudah gelap mata masih saja mengayunkan rotannya. “plak..plak..plak.”
Abu masih saja menggerutu kesal, sedangkan Hamid sudah hampir mati di hajar rotan. “Malam ini kau dapat pelajaran berharga Hamid, pelajaran yang setara dengan yang diterima abang kau yang sangat cerdas itu. Pelajaran agar kau bisa menghargai orangtua. Masih sekecil ini kau sudah berani berulah.”
Lalu Abu menjatuhkan rotan dari genggamannya dan duduk dikursi dengan lirih. Sedangkan Hamid, “Ampun Abu, sakit..” suaranya terdengar lirih, Umi yang melihat anaknya yang meringkuk kesakitan langsung merangkulnya masuk ke dalam.
***
“Sakit Umi..” Pagi itu Hamid terjaga lebih awal tanpa perlu dibangunkan Umi. Tidak seperti biasanya. Bagaimana tidak, ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman, bahkan Hamid pun harus tidur tertelungkup agar memar dan lebam bekas pukulan Abu semalam tidak terkena kasur tempat ia berbaring.
Umi yang semalaman menunggui Hamid pun lekas terjaga mendengar rintihan Hamid si bungsunya. “Baru jam 04.00 pagi Mid, kau sudah kau sudah bangun ?” Tanya Umi sambil melihat jam.
“Hamid tidak bisa tidur Umi,sakit..” Rengek Hamid.
“Iya, kau harus sabar, pasti sembuh. Tapi kau harus istirahat dulu, hari ini kau tak usah sekolah. Biar Umi hubungi wali kelasmu nanti.” Tukas Umi sambil memeriksa lebam-lebam di punggung Hamid.
“Hamid sanggup sekolah Mi, nanti Hamid pasti sudah sembuh.” Hamid tetap ingin sekolah hari ini karena teringat rencananya yang ingin menjenguk Abunya Akbar sepulang sekolah.
“Hamid, kau dengarlah nak kata Umi, kau tak sanggup sekolah hari ini, kau istirahat saja dulu dirumah, kenapa kau ini begitu keras kepala.” Gerutu Umi dengan gemas melihat Hamid yang begitu bersikeras untuk sekolah.
“Aduh sakit Umi, ya sudah Hamid istrahat, tapi rencananya Hamid mau menjenguk Abunya Akbar sepulang sekolah.” Hamid meringis.
“Akbar ? siapa dia nak ?” Umi heran karena selama ini tidak ada kawan Hamid yang bernama Akbar setahu Umi.
“Semalam Hamid terlambat pulang karena bertemu Akbar, dia anak kampung sebelah dan baru pindah dari kota karena Abunya sakit-sakitan, ibunya pun sudah pergi meninggalkan mereka semenjak Abunya sakit dan kehilangan pekerjaan, bahkan pulang ke kampung saja mereka berhutang. Akbar memungut botol-botol bekas untuk dijual ke tempat daur ulang, selama ini hanya dia yang bekerja serabutan dijalan seperti itu. Sedangkan Abunya sakit dan harus terbaring di rumah.“ sahut Hamid menjelaskan tentang Akbar yang semalam di jumpainya.
“Lalu kamu kenal dia dimana nak?” sepertinya Umi sudah mulai mengerti kenapa Hamid terlambat pulang semalam.
“Semalam Umi, sepulang mengaji Hamid menemukan bungkusan obat di jalan dan itu milik Akbar, saat itu dia sedang mencari bungkusan obat malam-malam, untung saja Hamid langsung kembalikan, kalau tidak mungkin dia bisa sampai pagi di jalan dan Abunya kembali kumat.” Jawab Hamid.
“Dia masih kecil sekali Umi, mungkin baru kelas I SD. Tapi sayangnya, dia tidak sekolah lagi“ Sambung Hamid.
Seketika Umi termenung. Diam-diam Umi terharu pada anaknya ini. Ia begitu sering menolong, Hamid benar-benar anak yang baik budi meskipun kebaikannya telah membuat dia sendiri lebam-lebam sampai ke rumah.
“Umi..” panggil Hamid.
Umi terkejut dan terbangun dari lamunannya “Iya kenapa nak? Ada yang sakit?”.
“Tidak Umi, Umi kenapa melamun?” Hamid balik bertanya.
“Oh itu, Umi tidak apa-apa. Kamu tahu rumahnya Akbar?” Umi kelihatan salah tingkah.
”Tau Mi, di samping masjid kampung sebelah, Umi tau kan?”.
”Oh disitu. Umi tau, Umi pernah beberapa kali ikut pengajian di masjid tersebut” jawab Umi.”
Kenapa Umi tanya alamat Akbar?” Tanya Hamid heran.
”Umi mau jenguk dia, kan kamu lagi sakit tak bisa jenguk”.
“Benar Umi? Alhamdulillah Hamid senang sekali” Ia setengah tak percaya.
“Sudahlah, tidur saja lagi nak, Umi mau wudhuk dulu.” Umi beranjak dari tempat tidur sambil memperbaiki letak selimut Hamid.
“Umi….”
Umi membalas dengan tatapan penuh kelembutan.
“Umi tolong jelaskan pada Abu ya, kenapa Hamid telat pulang semalam. Setidaknya Abu tau kalau Hamid tidak sengaja kelayapan. Hamid tidak mau jadi anak durhaka.” dengan nada pilu, ia menangis.
“Iya sudahlah, itu biar Umi yang urus, tidak usah takut” jawab Umi menenangkan.
***
Sepertinya Umi sudah menjelaskan kejadian semalam pada Abu. Ya, setidaknya Abu tahu kalau Hamid lagi-lagi melanggar peraturan untuk menolong orang.
Abu masuk ke kamar Hamid, “Kau tidur Hamid?”
“Tidak Abu, Hamid minta maaf.” Ujar Hamid ragu-ragu.
Abu duduk di samping Hamid, “Hmm, Abu sudah mendengar ceritanya dari Umi, mana yang sakit? Abu juga meminta maaf karena telah membuat punggungmu lebam-lebam seperti ini.” ucap Abu menyesal.
“Tidak Abu, Hamid memang salah.”
“Ya, kau baik-baik saja ya, Abu hendak mengantar Umi” Abu bangun dan mengusap-usap kepala Hamid, lalu keluar.
***
“Assalamualaikum.” Umi memberi salam sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam.” jawab Akbar dari dalam. Lalu membuka pintu dan menyalami kedua orang tua Hamid.
“Kami orang tuanya Hamid, nak.” ucap Umi melihat Akbar yang bingung karena tidak mengenali siapa yang singgah ke rumahnya.
“Masuk Miwa, Abuwa, silahkan duduk.”
Mereka pun duduk di lantai yang beralaskan tikar usang. Rumah ini benar-benar memprihatinkan.
“Bang Hamid tidak ikut kesini Miwa?” Tanya Akbar sambil menjamu mereka dengan teh manis hangat. Ia memang terlihat sangat sopan, mandiri dan bersahaja, sangat berbeda dengan umurnya.
“Hamid sakit nak, Insya Allah besok kalau sudah pulih dia pasti kesini”.
Umi memang tidak mengatakan kalau Hamid sakit karena di pukul Abu, agar Akbar tak merasa bersalah.
“Nak, mana Abumu?, benar dia sedang sakit parah?. Abunya Hamid yang sedari tadi diam pun mulai bicara.
“Ada di kamar, sebentar Akbar panggilkan.”
“Tapi Abumu kan sedang sakit, apa dia sanggup berjalan? Biarlah saja dia istirahat”.
“Tidak apa-apa, Abu sudah baikan, karena sudah minum obat semalam”.
Tak lama kemudian, Akbar menuntun Abunya berjalan ke ruang tamu sederhana. “Abu, ini Abu dan Umi bang Hamid yang semalam Akbar ceritakan”.
Seketika Abunya Hamid tercengang, begitu juga dengan Umi. “Kamu Hamdan?” Tanya Umi dengan mata tak berkedip.
Abunya Akbar pun ikut tercengang dan tak percaya. “Abu, Umi.”
Ia menyebut kata itu dengan lutut gemetar, lalu jatuh melutut di hadapan Abunya Hamid yang matanya merah menahan air mata. Bibirnya ikut bergetar, “Abu, maafkan Hamdan, Hamdan telah kena karma atas semua yang Hamdan perbuat, Hamdan menyesal. Abu. Tolong maafkan Hamdan.”
Abunya Akbar ternyata adalah Hamdan, anak sulung Abunya Hamid yang pergi beberapa tahun lalu. Ia menangis sesunggukan sambil mencium lutut Abunya. Tapi Abu tak bergerak, pandangan matanya masih tajam menatap lurus kedepan.
Umi langsung memeluk Akbar “Ya Allah, Akbar cucuku.” Umi memeluk Akbar erat dan menciumnya.
“Ini Machik, ini benar-benar Machikmu sayang.” ucap Umi mencoba menjelaskan pada cucu kecilnya itu.
“Machik..” panggil Akbar lirih. Mereka menangis haru. Akbar di pangkuan neneknya.
Namun di sisi lain, Abu dengan Hamdan masih seperti tadi. Abu mengeluarkan air bening dari matanya, tak sanggup ia menahan air mata meski sudah merah sedari tadi. Namun air mata dan keharuannya lebih kuat dari matanya.
Terdengar lagi suara lirih Hamdan “Abu, ampuni Hamdan, Hamdan sadar dan sudah berubah, semua nasehat Abu dulu harusnya Hamdan dengarkan.”
Abu masih diam, hanya matanya saja yang kian banyak mengeluarkan air. Lalu Abu bangkit dan berdiri di pintu rumah, memandang ke arah luar.
“Kau anakku, pulanglah ke rumah.” ucap Abu dengan gemetar.
Hamdan makin menangis di tempatnya. “Alhamdulillah, Ya Allah.” ucapnya lirih sembari sujud tanda rasa syukur terhadap kenyataan hari ini.
“Umi, mari kita pulang dan bawa Akbar, kau Hamdan lekaslah berkemas, nanti ku jemput kau kembali.” Ujar Abu lagi-lagi dengan mata yang menatap ke arah luar.
“Akbar bantu Abu mengemas barang dulu, kasihan Abu bila sendirian mengemas barang sendiri. Biar Machik saja yang pulang duluan.” Saran Akbar, bocah kecil yang bersahaja itu.
“Baiklah, mari Umi.” Abu langsung menyalakan mesin motornya.
“Nak, cepat kau berkemas ya, nanti Abuchik langsung menjemputmu.” Sambil mencium kening Akbar.
“Hamdan..” Tegur Umi sambil mengusap-usap rambut anak sulungnya itu.
“Umi..” Hamdan bangkit dari sujudnya lalu memeluk Umi kuat-kuat.
***
“Driitt..” Suara deritan pintu kamar Hamid yang dibuka pelan. Hamid yang sedang asik dengan hafalan juz ammanya pun melongok sedikit kearah pintu.
“Siapa ?” Tanya Hamid. Karena dikira Abu dan Umi belum pulang. Lagipula tidak tampak kepala orang yang membuka pintu, ia mencoba bangkit dan duduk.
“Aaaww, Aduh sakit.”
“Ya Allah Akbar, rupanya kau, pantaslah tak nampak kepala orang yang membuka pintu, ternyata orang kecil. Kemarilah !”
“Akbar sayang Cek Hamid.”
“Kenapa kau panggil abang Cek? Baru semalam kita bertemu, apa sekarang abang sudah kelihatan tua ?” Kening Hamid mengerut.
“Driit..” Terdengar lagi suara deritan pintu, dan kali ini dengan kepala orang yang langsung tampak, tapi Hamid sama sekali tidak kenal. Diikuti Abu dan Umi yang menuntun orang tak dikenal itu.
“Kau memang Cek Hamid, dan ini keponakanmu, Hamid.” Ujar Hamdan.
Hamid mulai bingung, sepertinya hanya dia yang tak tahu apa-apa disini. “Tunggu sebentar, berarti ini Bang Hamdan ?”
“Iya, ini Akbar anak abang, saya Bang Hamdan.” Sahut Hamdan dengan simpul senyum di wajah pucatnya.
“Ya Allah, Bang Hamdan.” Hamid terperangah dan kaget seketika.
‘Iya, ini abangmu Hamid, dengan ayunan rotan di punggung dia pergi dari rumah, dan dengan ayunan rotan di punggung adiknya dia kembali.” Tukas Umi sambil senyum menggoda.
“Alhamdulillah, inilah alasannya kenapa setiap manusia harus tolong menolong setiap saat kan Abu?” Hamid berbalik menggoda Abu.

Kerenn...
BalasHapus