"Tujuh" Metamoforsa Seorang Teungku Rangkang



By Teuku Abie Yoes
               
                Gerimis membasahi altar pesantren MUDI pagi jumat ini, namun terlihat para santri malah berlarian kekantor  pengajian setelah mendengar pengumuman blangko nilai yang sudah siap untuk dibagikan, beberapa diantaranya juga terlihat sahabat sejawatku yang mondar-mandir di depan kantor, seakan hujan tak terasa membasahi tubuh, ratusan santri tak bergeming melingkari pintu kantor, menunggu guru mereka keluar dengan arsip nilai di tangan beliau, menunggu selembar kertas yang menentukan nasib santri,  betapa tidak, kegelisahan dan ketakutan  tahun ini terjadi karena perubahan kurikulum sehingga membuat santri harus menetap dikelas yang sama setahun lagi, dan jika tidak lulus, para santri harus turun kelas dan itu hal yang sangat tidak diinginkan terlebih lagi kegelisahan bersebab isu membludaknya santri yang tidak lulus.
Saiful berlarian membelah kerumunan santri menunju kearah kami, “siapa yang mengambil blangko nilai?” Tanyanya,  serempak kami meninggikan bahu, mengisyarah ketidak tahuan,
“Tgk Adami tidak ada disini, begitu juga Tgk Rifai, katanya sudah pergi tadi pagi-pagi sekali” jawab Nanang.
“jadi siapa yang mengambil blangko nilainya?”  saiful kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama dan disusul jawaban yang sama pula dengan bahu ditinggikan dan tangan diangkat ke langit mengentahkan.
Sebahagian santri mulai terlihat membendung air mata, entah terharu atau meratapi kegagalan, lalu bagaimana dengan nasibku dan sahabat-sahabatku?, siapa yang akan mengambil blangko nilainya?,  mataku mulai mencari tak menentu arah memandangi kabut dan gerimis,  mondar mandir mencari salah seorang guru yang mau mengambil blangko nilai, tapi siapa?, pihak kurikulum pasti tidak akan memberikan kepada yang bukan bersangkutan.
Detik silih berganti, menit pun berubah ke jam, lambat laun hujan mulai lebat membasahi separuh kota santri ini, beberapa santri kini mulai berlarian mencari tempat berteduh, tapi aku masih ingin menetap disini menunggu kunci kebebasan, melepaskan beban-beban kekhwatiran, menunggu angka sakral di pagi jumat yang berkah ini,  menunggu angka-angka kemenangan, angka menuju kelas tujuh.
Dari kejauhan Nampak sosok yang sudah kami nanti, Teungku Rifai berjalan kearah kami dibawah kanalpo gang Al Aziziyah, memberi simpul senyuman dan menghilang dibalik daun pintu kantor pengajian, Aku berdiri dengan doa seribu harapan terbesit dalam hati, mungkin sahabatku juga begitu, tiba-tiba teungku Rifai keluar dengan blangko ditangannya, menyerahkan kepada kami dengan senyuman misteriusnya, mataku melirik kertas penentu nasib masa depanku itu, mencari nama sederhana  diantara nama-nama mereka dengan jari telunjuk sampai mengarah pada kata “LULUS”
“subhanallah, Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah” syukurku menebar senyum kegembiraan, exporia santri sangat terasa terutama kelas enam yang sudah bisa bernafas lega untuk melepas satus santrinya,
Air mataku sepertinya tak terbendung lagi layaknya Gerimis pagi ini, memberi irama merdu diantara kanalpo dan atap-atap rumbia balai, mengalir pelan membasahi dan membersihkan beban yang sudah menghitam dibawah pelupuk mata, rintik hujan seakan mewakili setiap perasaan santri mahad ini, menangis terharu dan menangis pilu, entahlah, begitu juga yang kurasakan sekarang, mutiara langit ini memutarkan rekaman enam tahun silam bertepatan pada hari Minggu, 10 juli 2009, saat langkah kakiku pertama sekali berdiri diatas altar santri, saat cita-cita sederhana kusemai  di kebun surga ini, menjadi seorang Teungku Rangkang[1], menjadi seorang anak  yang  bisa mendoakan Almarhum ayah, ya… seorang ayah yang meninggalkanku ketika kaki kecilku belum sanggup untuk berlari, meninggalkanku sebelum mataku terbuka lepas memaknai kerikil kehidupan ini.
“Ayah..!!!” kupanggil lirih beliau dalam hati dengan mengikat simpul senyuman diantara dua pipiku.
“ini jalan yang kutempuh untuk mencari ridhamu Ayah, untuk baktiku padamu,  untuk mencapai ridha Allah” aku membatin sembari mataku kembali menembus langit.
******
Sebuah angka sakral, angka keberuntungan, angka ganjil yang disuka Allah dan juga angka yang menjadi penentuan kehidupanku selanjutnya dan mungkin  kehidupan sahabat-sahabat sejawatku, angka tujuh, yaa.. angka itulah yang membedakan apakah aku masih seorang santri atau bukan, tapi angka itu bukan untuk membedakan kualitas karna justru yang belum melangkah keangka tujuh malah lebih bermutu daripadaku, makna angka ini adalah kebebasan, kunci dari bulu-bulu yang  tumbuh disayap dan sudah siap dikepakkan untuk terbang.
“Ah terlalu naif, apa yang kupikirkan? Apa Yang sebenarnya yang kurencanakan di kelas tujuh ini?, Menikah?,  Meninggalkan dayah dan mencari kerja untuk menopang kehidupanku?, pulang ke kampung halaman untuk menemani kesendirian  ibu yang selama bertahun-tahun kesepian menyediri? atau berjalan semauku mengembara tak menentu arah seperti jalang durjana?, atau justru aku akan menetap sebagai Teungku di dayah ini” pikiranku entah ke negeri antah branta mana sudah melayang.
Bukan tanpa alasan, pertanyaan itu sering terlintas begitu saja dalam benakku belakangan ini, sekalipun umurku masih terbilang muda, dan belum siap untuk menikah dan juga keterbatasanku mencari sedikit nafkah untuk diri sendiri sebagai santri yang masih terikat dengan peraturan.,
Yang telintas dibenakku sekarang hanyalah ibu, seorang wanita yang telah mendidik dan membesarkanku sedari kecil, wanita yang menggantikan posisi almarhum Ayahku membanting tulang mencari nafkah, wanita tua yang rambutnya mulai memutih  kini hanya tinggal seorang diri dirumah selama bertahun-tahun kesepian. Apa aku akan setega itu kepada orang yang cintanya tak pernah pudar untukku.
Ibu yang terus menjadi motivasiku ketika aku hampir saja meninggalkan dayah ini, satu-satu orang tuaku yang masih hidup, siapa lagi yang akan ku bahagiakan selain dirinya, surga mana yang kucari selain dibawah telapak kakinya, apa aku akan peduli dengan caci maki mereka yang menghinaku ketika setiap bulannya aku pulang hanya untuk menemuimu ibu, untuk mengantikan kekosonganmu walaupun beberapa hari.
Air mataku kembali menetes ketika bercengkrama dengan batinku, aku hanya ingin membuat beliau tersenyum bahagia karnaku, dan mungkin ini adalah waktunya setelah sekian lama aku meninggalkan kesendirian beliau.
Aku teringat terakhir kali kata-kata ibu saat liburan lebaran bulan lalu, ketika tangan dibaluti kulit yang mulai menampakan garis penuaan itu mengendong bayi adik perempuanku “zian”, bercanda dan tertawa bahagia dengan cucu ketiganya dirumah sambil sekali-kali melambung zian
“Abang…!!!, menyo na neuk bloe kitab ek glah nyo abang brithee  beu awai, nyak jeut mak kubah peng meu bacut, nyan abang kameujak beut, beu betoi-betoi, beu malem lagee waled Landeng aneuk pak Mukim, nyan ka jak sidroe bek lee wo sidroe, beuna puwo ngen sidro keu mak dari dayah”. Ucap ibu yang sedang bercanda tawa bersama cucu lelakinya.
“PLAK” kata-kata ibu membuatku terkejut, sekaligus membuatku malu, rasanya baru kali ini ibu mengucapkan kalimat seperti itu, entah karena ingin juga mengendong cucu bayi dari anak lelakinya, tapi mana mungkin, aku terlalu muda, bahkan sama sekali belum siap, memikirkannya saja merinding geli, kata-kata ibu juga mengingatkanku untuk bekerja dan belajar, aku tidak mau terus menambah beban ibu sekalipun beliau tidak pernah mengatakannya, mungkin jika bukan karena keterbatasanku sebagai santri, sudah dari dulu ku minta ibu duduk dirumah dan menunggu kiriman dari anak lelakinya.
Ditambah lagi harapan ibu agar aku bisa seperti waled Landeng membuatku harus menelan ludah sendiri, betapa  bodohnya aku selama ini, menjadi seperti waled adalah hal yang sangat jauh dari benakku, bahkan menjadi keringat beliau saja masih tertinggal jauh.
Ku minta Zian dari gendongan ibu, mengendongnya dan menyerbu wajahnya dengan berpuluh ciuman sembari ku gigit lembut hidung mancungnya yang menggemaskan.
“mungken ek glah nyoe mak leuh haji insyaallah na bloe kitab, hehehe…man kana dua droe waled enteuk kiban mak?, doa bak mak beu jeut kitab, beu ek duk didayah,  insyaallah mak, yang kiban ta pewo keu mak?”. Balasku sedikit bercanda.
yang mau menerimamu apa adanya dan mau menemanimu selamanya nak”jawab ibu tersenyum.
“insyaallah,semoga Allah memberikan menantu terbaik buat emak, Abang pamit dulu ya mak” pamitku takzim sembari mencium tangan lututnya  dan menghilang dibalik senja sore itu .

******
                Ba’da jum’at,
ku atur langkahku menuju kebebasan didepan gerbang pesantren, kupandangi sekililingku beberapa santri mengendarai motor seperti ingin menunjukkan kebahagiaannya dan kebebasannya hari ini, begitu juga denganku, walaupun sedikit geli seakan terlihat seperti seorang lelaki yang sudah lama terkekang dalam penjara,  mencari seorang sahabat yang memiliki motor, hari ini ingin ku tunjukkan kebahagianku dan kebebasanku dengan memutarkan ban vixion milik Teungku Sarjoni seperti kebanyakan yang dilakukan mereka, menunjukkan exporiaku sebagai sesorang yang sudah menggenggam angka sakral di tangannya ”angka tujuh”.
air mataku mengalir pelan bersembunyi dibalik frame kacamata, “mak!!!, aku sudah bisa pulang kapan saja tanpa harus takut gundul lagi, untuk menjaga emak sendirian dirumah, aku sudah bisa menemani emak kapan saja mak butuhkan. ” batinku meraba rindu untuk ibu.
perlahan jemariku menekan tombol-tombol istimewa dihape Teungku Joni untuk menghubungku dengan ibu dikampung,
“tut….tut….tut….”
“asalamualaikum, siapa?” aku masih terdiam hening diantara keramaian, mendengar salam ibu dari kejauhan.
“asalamualaikum, nyoe dengen soe?” Tanya ibu kembali.
“waalaaikum sssaalamm” jawabku lirih menahan desah tangis.
“Abang!!!” sapa  ibu yang mengenali suaraku.
“iya mak, lon rencana mejak wo uronyoe mak”
“get, paken woe man, entek ka botak lom”
“han le mak, hana pue pue lee” ucapku sedikit tersenyum membendung tangis.
The end
GLOSSARIUM


Menyo                 : jika, kalau
Blo                          : beli
Brithee                 : britahukan
Nyak jeut            : supaya bisa
Kubah                   : simpan
Peng                      : uang
Beut                      : mengaji
Beu malem         : harus jadi alim Ulama
Aneuk                   : anak
Jak/meujak        : pergi
Peuwoe               : bawa pulang
Woe                      : pulang
Leuh                      : sesudah
Paken                   : kenapa
Han lee                 : tidak akan lagi
Hana pupu lee   : tidak bermasalah lagi.


Selasa, 17 November 2015 at serawak, Mahadal ulum diniah islamiyah, Samalanga, Aceh Jumpa.




[1]Sebuah nama pena yang terillhami dari sebuah cita-cita sederhana dan juga sebagai bentuk kesadaran diri tentang keterbatasan ilmu serta  ketawadhuan penulis. Nama Teungku juga disematkan sebagai ciri khas sebagai santri dari aceh. Kini penulis mengubah nama karena beberapa alasan diataranya nama teungku rangkang sudah  banyak digunakan  orang sekaligus dikarnakan cita-cita kecil yang baru tercapai secara akademis dan juga sebagai awal karir sebagai  seorang  teungku  rangkang  yang  bermetamoforsa  dengan  nama  yang  lebih  khas.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Tujuh" Metamoforsa Seorang Teungku Rangkang"

Posting Komentar