Warisan Cita-cita


Warisan Cita-cita
Oleh: Teuku Abie Yoes


Sang pengeran malam dengan jubah hitamnya masih menyelimuti separuh bumi namun takkan bertahan lama, jam sudah mengarah jarum ke angka 3.40 wib, sang surya sebentar lagi akan terbit diufuk timur dan mengusir kegelapan, embun menetes dari pucuk dedaunan bersama desiran hawa dingin menyejukan setiap sudut pesantren yang dibangun sejak zaman Iskandar Muda, MUDI MESJID RAYA. Beberapa pilar pilar penyangga berbaris teratur menompang rumah Allah nan Agung “mesjid poe teumeureuhom”, terlihat sajadah biru toska memanjang sepanjang saf paling depan disambut mimbar lama yang masih kokoh berukir khaligrafi bergaya klasik khas pahatan kayu jati dari jepara jawa tengah,
Aku menyendiri disamping mimbar,  tubuh yang mulai mengurus nan lusuh bak tulang dibaluti kulit , menopang malam ini untuk mengadu, kututupi kepalaku dengan ridak hitam bercorak titik titik putih, linangan air mata berjatuhan di mata lebamku yang mulai tenggelam menghitam bersama  pendeitaan dan dosa, menderai di pipi membasahi jenggot tipis dan menetes ketelapak tangan yang sedang menengadah, sesekali kuusap mataku dengan redak hitam, sesekali kusunggukan isak tangisku yang tak tertahan lagi, siksa batinku menyesali dosa dosa yang membuatku tak pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
Aku terteduh dalam munajatku menengadah kepada Allah tentang semua yang membatin, tentang semua dosaku , beristiqfar mengharap ampunan, aku tak pernah menyadari keberadaanku disini sampai sejauh mana akan bertahan dengan kondisi yang tak pernah kurasakan sebelumnya, apalagi berada diantara anak anak kecil kelas satu L yang kebanyakan meraka tamatan SD dan SMP, bahkan ada yang SD pun tak tamat. Sudah sebulan lebih aku bertahan dan bersabar menghadapi tingkah kenakalan mereka, betapa tidak kebisaan meraka hanya rebutan tempat duduk, rebutan makanan, alat tulis, sajadah, kopiah, berantem kemudian menangis, anak-anak itu betul-betul membuatku geram dan hilang kesabaran, mungkin tidak lama lagi bisa bisa aku seperti bocah-bocah itu. Ditambah penobatanku sebagai ketua kelas bergelar “ayah salman” diumurku yang ke 25 tahun, umur yang sangat muda untuk sebutan ayah, aku juga harus melupakan calon tunanganku siska rahmatillah, seorang gadis semester dua kedoktoran UNSYIAH, tapi bukan karena itu yang membuatku masyqul, kejadian tiga bulan yang lalu sebelum langkahku kemahad ini masih terekam jelas dalam rekaman ingatanku.

                                                Tiga bulan sebelumnya

            Jemariku masih menari ditut keyboard, sesekali kuusap mataku yang perih karna berlamaan menatap layar laptop, sebentar lagi rampung bisik batinku, jariku memburu waktu sambil membayangkan permohonan beasiswa megister keluar negeri yang akan tembus, aku sudah banyak melakukan ralasi-relasi dengan beberapa orang berpengaruh diprovinsi ini, keyakinanku begitu besar untuk cita cita yang tinggi “seorang politikus” aku juga sangat bersyukur menjadi lulusan terbaik yang selama ini kuperjuangkan dan kuusahakan bersama keberkatan doa ummi sebagai hadiah yang selama ini ingin kuberikan kepada Alm abi, akhirnya .
Abi...!! aku akan menjelma menjadi dirimu seorang politikus sejati, seorang pemimpin rakyat, seorang pengayom masyarakat “ suara hatiku membatin
Beberapa dosen dan juga teman teman mengucapkan selamat diwall facebook, termasuk pacarku siska
“bang...!!! selamat ya jadi graduate terbaik, cumlaude lagi, siska tunggu ya selesai magisternya”
aku mereply statusnya “ blum dik, doain aja ya, abang tembus schoolarship ke UM Malaysia”
Semua dalam genggaman, aku melihat cita-citaku didepan mata, sejengkal lagi akan kugapai akan ku khitbah siska rahmatillah, aku paham betul kata kata terakhirnya diwall facebookku, “ tunggu aku siska” sementara jemariku masih mengetik dan menyimpan semua cita cita yang membara dalam sukma.
            “dek salman....!!! dek salman ...!!! makanlah dulu !! “ terdengar suara ummi memanggilku dari ruang makan yang membuyar bayanganku.
“ ya ummi ...!!! sebentar lagi” jawabku sambil jemariku mengetik ditut keyboard
“dek salman makanlah sedikit dari tadi belum makan”
            “Ya ummi sedikit lagi selesai”
Tak sadar ummi berdiri dibelakangku memerhatiakan layar laptop sembari tangannya menggepal nasi dengan jari jari kurus keriput menyuapi kemulutku penuh kehangatan, kulahap perlahan sampai tangan ummi memenuhi mulutku, sesuap demi sesuap nasi mengisi perutku hingga tak sebutir pun tersisa dipiring, segelas piring mengalir ditenggorokan membawa kunyahan kepencernaan
“dek salman boleh ummi bicara sebentar ?” pinta ummi
            “ya bolehlah ummi, ummi mau bicara apa ?” sambil mengerut kening sepertinya ummi ingin bicara serius, tak biasanya ummi meminta begitu, biasanya langsung ngomong.
“dek Salman, ummi bangga sekali bisa melahirkan anak anak terbaik begitu pula almarhum abimu, abangmu suhaimi sekarang sudah jadi doktor, kakakmu Sriwahyuni sudah menetap kerja sebagai bidan, kakakmu yang tinggal dibanda, kak Salma sekarang aktif jadi dosen bahasa inggris, abangmu Sahlan walaupun tamatan SMA juga sudah jadi pengusaha restoran  yang sukses. Ummi juga bangga padamu dek Salman, semua sukses menempuh jalannya sendiri, semua karna didikan alm abimu yang disiplin dan tegas, rasa demokratis abimu yang dijunjung tinggi keluarga ini membuat anak anak ummi semua mandiri, ummi ingat betul kata-kata abi kepada semua anaknya termasuk kamu sesudah tamat SMA abi takkan meminta anaknya kesana kesini, kesekolah ini, dan kesekolah itu, abimu tidak pernah memaksa anaknya memilih jalan hidupnya, abimu tak mau namanya disebut-sebut jika anaknya gagal ataupun sukses, semua pilihan diserahkan kepada anaknya, abi akan mendukung setiap keputusan anaknya tapi nak, karna itulah harapan ummi agar anak anak ummi selalu tertahan selama ini rasa demokratis abimu yang memenadam harapan ummi agar anak anaknya menjadi lulusan pesantren, menjadi seorang yang mendoakan Alm abi dan ummi ketiak meninggal nanti (suara ummi mulai terbata-bata menahan tangis sekalipun air matanya menderai mengalir dipipi senjanya yang terlihat garis-garis penuaan).”
“tapi sayang sekali abang-abangmu dan kakak-kakakmu sudah berkepala tiga dan sudah berkeluarga, hanya dek salman lah harapan ummi satu-satunya.”
PLLAAAKKKK....!!!!! seakan halilintar menceraikan jasad dengan rohku, bayangan cita-citaku menjadi rengkarnasi abi luntur memudar, cita-cita untuk mengkhitbah siska terkubur, padahal semuanya tinggal sejenggal lagi, aku dihadapkan pilihan yang sangat sulit, aku terus membatin dalam kebimbangan
Keheningan menyelimuti kamar 5 X 5 M itu, kulihat ummi menunduk menyapu air mata yang terus menderai dengan jelbab hitam, sementara mataku berkaca-kaca menahan kegelisahan kebimbangan antara cita-citaku dan harapan ummi untukku, sebagai anak ummi satu-satunya ummi sangat berharap aku menjadi seorang ustadz lulusan pesantren MUDI.
“dek salman....!!!!” seru ummi terbata-bata isak tangis memecah keheningan
“dek salman maukan mondok dipesantren MUDI?” pertanyaan itu, aku takkan bisa menjawabnya
 aku juga tahu ummi dulu pernah nyantren dimudi empat tahun sebelum dilamar almarhum abi, aku melihat tubuh kurus ummi sekarang, sangat rentan menaggung asa dan beban kehiduapn , tapiii, tapii apa yang harus kulakukan...??
“aku pergi....!!!” ketusku sambil membanting pintu  “TTTTTAAAAAMMMMM” melangkah meninggalkan ummi yang sedang menangis...
----
            Menatap hampa diatas bebatuan besar, riak ombak dibubungi kabut pekat bersama gerimis tak mengoyahkan tubuhku untuk beranjak dari sana, hamparan laut luas takkan pernah sedikit saja membagi tempat untukku berbagi bebanku, aku hanya menatap hampa  dengan menahan linangan air mata, memutar kembali rekaman apa saja yang telah terjadi barusan, “untuka apa aku mengaji, aku kan sudah bisa baca alquran, udah tau sedikit-sedikit hukum agama dari ngajiku ketika SD dulu”  pikiranku sempit yang tak bisa tenang dari tadi...
            “dek salman...!!! dek salmann...!!!” teriakan kak sri dari kejauhan mendekatiku dibibir pantai yang sudah tau kebiasaanku menyendiri disini, nafasnya tergopoh-gopoh, memelukku erat menompah tubuh yang kelelahan “ummi...!! ummi..!! dek...!! ummi...!!!” kata-katanya terbata-bata menahan tangis yang tak tebendung,
“Kenapa ummi kak....????” keriakku khawatir
            “ummi ... kheehhkk..... khhekkk...” wanita berkepala tiga ini tenggelam dalam tangis dan berita yang tak pernah tersampaikan.
Aku berlari kencang mengejar kekhawatiran meninggalkan kak sri sendiri, berlari dengan sejuta kebimbangan dan pertanyan kenapa ummi?, kulihat keramaian memenuhi beranda rumahku, semua warga kampung berkumpul , langkahku melemah tertatih memasuki ruang depan kulihat mata mereka memerah, membuat kerumunan membawa pandangan duka menatapku, tubuhku melemah tersungkur didepan jasad wanita tua yang ditutupi kain batik, seorang wanita yang sangat kucintai terbaring didepanku tanpa denyut jantung berdetak.
“ummiiiiii...!!!!!! uuummmmiiiii.....!!!!!
-----
“Ummiii....!!!! salam minta maaf ummi, ya Allah aku tak ingin menjadi anak duhaka, ya Allah, kheekk, khheekkkk,”  pekik tangisku dikeheningan mesjid poe temerehom
Ustadz adami duduk disamping mengusap uban dan punggungku yang entah sejak kapan berada disini,
“salman, sabar nak !!!,  tenangkan pikiranmu, tak baik bersedih terus , yakinlah almarhumah ummi bangga padamu begitu juga almarhum abi, yakinlah dengan istiqoamh disini membuat mereka bahagia disana, kamu anak ummi satu satunya yang diwarisi cita-cita mulia ini, buatlah mereka bangga dan bahagia kekal disurga, cita-cita yang diwariskan sebagai anak yang berbakti kepada orang tua yang selalu mendoakan mereka, jadilah seorang ustadz, itulah warisan termahal dan terbaik didunia dan akhirat, warisan cita cita sebagai jelmaan abi yang sesungguhnya mengayomi masyarakat dengan ilmu agamamu yang bermamfaat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Warisan Cita-cita"

Posting Komentar