Lukisan Affrodite

Lukisan Affrodite[1]
By_ Teuku Abie Yoes


            Angin berdersir merdu memutar  kincir disetiap sudut negeri ini, buminya dihiasi warna-warni keindahan bunga tulip, kupu-kupu cantik bercumbu dengan tulip, merayu genit dicelah celah warna warna pelangi, seorang lelaki separuh baya duduk teduh dibangku taman, jemarinya menari-narikan kuas diatas kanvas yang terpasang ditripot, melukis keindahan bumi van orange ini, beberapa petugas keamanan Negara juga terlihat berpatroli  ditaman Keukenhof Park atau biasa disebut juga sebagai Garden of europe merupakan taman bunga terbesar di dunia
“Alhamdulillah, lukisanku hampir selesai, keindahan negeri ini membuatku terkagum, subhanallah ya Allah”, ucap lelaki paruh baya itu.
Angin Netherland seakan tak pernah berhenti berhembus sampai sampai menghembuskan tripot Jhosep Van Fesse  terjatuh, lelaki itu spontan beristiqfar  karena terkejut “astaqfirullahal‘azim” gumamnya sambil menunduk mengambil tongkat tripot dan kanvas, polisi tadi melirik tajam dan menghampirinya.
“Maaf pak, apa yang bapak lakukan barusan”
            “Saya hanya terkejut dan mengambil tripot saya yang terjatuh”
“Anda terlihat sangat mencurigakan, tolong ikut kami kekantor”
“Tapi, Pak” tak selesai biacaranya lelaki itu diboyong ke kantor polisi yang tidak seberapa jauh dengan taman, seorang wanita melihat jhosep diperlakukan tidak wajar “kenapa dengan Jhosep ?” selidikinya dalam hati tapi Jhosep berlalu begitu saja dihadapannya.
            Tidak heran, kota ini sudah dihinggapi krisis islam, hampir semua penduduk kincir angin ini dirasuki islamophobia sejak tragedi 11 september 2001 di WTC USA, dan menvonis islamlah yang melakukannya, mengubah pandangan dunia bahkan negeri tulip ini, berpikir islam adalah agama terrorist, agama radikal yang suka berperang sekalipun penduduk asli seperti jhosep.
“Apa yang kamu lakukan ditaman HAHHH….!!!!” Tanya polisi yang sedang menyiksa jhosep diatas kursi setrum.
            “Aku hanya melukis, aakkkkkhhhh” kembali lagi polisi itu menyetrum jhosep.



“Kamu Terrorist, dimana kamu sembunyikan bom  yang akan kamu ledakkan ditaman, DIMANA???” bentak polisi itu
            “Bom apa?, aku hanya lelaki tua yang mencari nafkah dengan melukis, aku terlalu miskin untuk membeli bom, bahkan untuk makan saja aku susah” bela jhosep
“Hai tua Bangka” , seorang polisi mencekik lehernya, “apa kau sudah muak untuk hidup  HAH..!!!, apa kamu pikir aku tidak mendengar kamu mengucapkan kalimat-kalimat yang sering diucapkan terrorist Al-Qaeda, kamu pasti bagian dari mereka, dimana  komplotanmu HAH???”.
            “khhkkk… aku bersumpah bukan terrorist”
“phammm…. Akhh” sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya, meneteskan benang darah becampur liurnya.
“bawa tua Bangka ini keruang tahanan bawah tanah” perintah polisi kepada bawahannya.

­­­­____******____
            Negeri Van Orange ini sangat indah, semua pendatang pasti akan terkagum dan terkesima dengan kincir raksasa, keindahan warna-warni bunga tulip dan kue  jan hagel  khas negeri netherland ini, seakan tak ada penjara dikota ini, ya penjara yang terlihat mata karna terletak dibawah tanah, penduduk negeri ini memiliki kecurigaan tingkat tinggi bahkan untuk taulan dekatnya, seorang wanita merangkak perlahan menuju lobang angina kecil diantara celah-celah jeruji besi ruang tahanan bawah tanah.
“Jhosep..!!!, Jhosep..!!!, kamu disitu?” panggil Aclema Eva memelankan suaranya.
            “iya, kamu Aclema adik istriku, bagaimana keadaan Affria, Aclema?” jawab Jhosep mengkawatirkan istrinya.
“Alhamdulillah affria sehat, kamu tidak apa apa Jhosep, lukamu sangat parah”.
            “aku tidak apa apa Aclema, apapuan akan kulakukan untuk membela agamaku, islam bukan terrorist Aclema, islam bukan terrorist”. Aclema menahan tangis tapi air matanya terus menderai meratapi nasib jhosep.
            “Aclema, jangan biarkan affria tahu aku disini, aku mohon aclema!!!”. Pinta Jhosep.
“Baik, aku pergi dulu, takut ada polisi yang melihat”
            “Berhati_hatilah Aclema, sampaikan salamku kepada Affria, tolong jaga dia baik-baik” ucap Jhosep sebelum Aclema menghilang dibalik celah celah besi karat itu.

_____******_____

            Beberapa lukisan bergantungan dirumah sederhana milik Jhosep Van Fesse, terlihat Affria menyibukkan dirinya menjahit pakaian Kladerdracht yang dipesan orang padanya, kadang kala menyapu matanya karena kelelahan menatap benang-benang kecil menembus kain, menenggelamkan pikiran tentang keadaan suaminya yang sudah beberapa hari belum juga pulang “ Aaauuu” affria mengaduh sakit, sebilah jarum menusuk jarinya.
“asalamualaikum affria kakakku?”
            “walaikum salam aclema, masuklah”  jawab Affria sembari menghentikan pendarahan dijarinya.
Aclema berlari memeluk Affria, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Affria.
“kenapa kamu dik Aclema?, kenapa kamu menangis?” Tanya Affria penasaran 
            “tidak apa-apa kak, aku hanya ingin menangis, sudah lama aku tidak menangis” jawab Aclema berbohong sambil menyeka air matanya, “oya affrodite” aclema memanggil nama yang biasa dipanggil Jhosep, “aku tadi bertemu Jhosep di kota, dia katanya tidak akan pulang untuk beberapa hari karena ada pekerjaan dan memintaku untuk menemanimu disini” lanjut Aclema.
“kapan kamu ke kota lagi, aku akan membuatkan kue cinta kesukaannya”
            “mungkin besok, sudah beberapa hari aku belum ke kota, oya aku ambilkan tas dulu dipintu, aku akan menginap disini untuk sementara” jawab Aclema yang bejalan melangkah menuju pintu.
“iyaa terimakasih Aclema, setidaknya ku tak akan kesepian untuk beberapa hari karna akan ditemani adikku yang cerewet, hehehe” canda Affria mengakhri percakapannya dan kembali menata kain yang sedang dijahit didepannya.

______******_____
           
            Angin tak akan berhenti berdesir di Negeri kincir angin ini, menyisir rerumputan menghembus ke celah-celah jeruji besi tahanan bawah tanah, menghembus ketubuh lelaki paruh baya yang dipenuhi luka aniaya, tapi mulutnya terus berzikir, sedikitpun dia tidak mengeluh sakit karena membela Islam dan keimanan didalam hatinya, tangannya  melukis dinding dengan kapur arang, melukis sosok wanita yang sangat dicintainya.
“Jhosep!!!, Jhosep!!!” panggil Aclema pelan  diatara celah celah jeruji, sebuah toples yang diikat dengan tali perlahan lahan diturunkan sampai Jhosep menangkapnya
“itu dari affria, makanlah Jan Hagel itu, seharian dia tidak istirahat karena memasak kue kesukaanmu, aku berbohong padanya kalau  kamu bekerja dikota”.
            “Dank Je Aclema[2] terimakasih Jhosep seraya membuka toples dan memakan kue cinta buatan Affria dengan lahap, Aclema menatap duka kearah Jhosep “sepertinya yang diberikan ditahanan ini sangat tidak cukup, Islamophobia benar-benar merasuki polisi dan kebanyakan masyarakat penduduk negeri ini” batinnya
            “Aclema!!!, Aclema!!!” panggil Jhosep sambil menarik tali ditangannya.
“bawa pulanglah toples ini, sangat berbahaya jika berada disini, tolong jaga isitriku baik baik”.
“euummm” Aclema hanya mengangguk dan menghilang dibalik bayang-bayangan jeruji besi.
“sudah seminggu lebih  Jhosep belum pulang Aclema, aku khawatir dengannya, memanggnya dia kerja apa dikota?, khukkkk…. Khhuuukkk…, hari ini biar aku saja yang mengantarkan kue jan hagel kesukaannya” Tanya Affria yang diselimuti kekhawatiran.
            “Insyaallah tidak apa apa, mungkin Jhosep benar-benar sibuk, lagian kamu lagi sakit demam” elak Aclema.
“tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya demam biasa, biarkan  aku pergi bersamamu hari ini” bujuk Affria lagi.
            “Astaqfirullah, tubuh kamu panas sekali kak, lebih baik istirahatlah sampai kamu sembuh, lagi pula nanti aku juga akan dimarahi Jhosep jika membawamu dalam keadaan sakit parah begini” jawab Aclema yang menyentuh leher dan kening Affria.
“aku sanggup Aclema, Aku khawatir dengan kedaan Jhosep, pokoknya aku ikut, ambilkan toples biar aku masukan kue kue ini” cetus Affria ngotot.
“aku mohon Affrodite istri tercinta Jhosep, jangan memaksa keadaan kamu sedang demam berat, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu” jawab Aclema yang kehabisan akal sembari menyerahkan toples untuk Affria, dia membuka toples, mendapatkan sebuah memo kecil didalamnya
“Sebuah Asa Dan Harapan”
Tunggulah Aku
 Jhosep Van Fesse.
Affria terduduk lemah, sebuah kata kata abstrak  dimemo  kecil membuat air matanya  menderai, kerinduannya kepada Jhosep yang selalu memanjakannya dengan puisi –puisi bahkan dikala dia sedang sibuk dan jauh pun sempat menuliskannya untuk istrinya.
“aku tidak jadi pergi Aclema, bawakanlah kue-kue ini untukknya” jawab Affria melemah mematuhi pinta Suaminya.
“Iya Affria, biarkan kue-kue itu aku yang bawakan, istirahalah yang cukup sampai kamu sembuh” balas Aclema
“Terimakasih Aclema” ucap Affria yang sudah merebahkan diri dibangku mesin jahitnya.
_____*******_____
            Setapak demi setapak Aclema melawati gerbang kantor polisi, seragam merah sebagai pekerja kebersihan di kantor polisi melekat ditubuhnya, melewati beberapa sipir yang sedang berjaga hari ini, sedikit gugup  tapi langkah kakinya terus berjalan sampai terhenti dilubang angin berjeruji besi dimana Jhosep dibui, sebuah tpoles dikeluarkan diantara sapu dan pel dalam ember, emngikatnya dengan tali dan menurunkannya pelan-pelan.
“Jhosep!!!, Jhosep!!!, ambillah kue ini” pinta Aclema sedikit berbisik
“iya” jawab Jhosep dengan tangan mengadah siap menyambut toples, seorang petuagas polisi dating entah darimana sudah berada dibelakang Aclema.
“apa yang kamu lakukan wanita jalang” cetus kasar petugas dengan sebuah tendangan mendarat dibagian perutnya
“Auuuu” teriak Aclema kesakitan, tubuhnya terlempar beberapa hasta, kue dalam toples  jatuh berhamburan dilantai, membuat bunyi kegaduhan diruang tahanan itu, Aclema menjauhi petugas merangkak dengan kedua tangannya tapi tubuhnya sangat sakit karena tendangan barusan.
“ternyata kamu adalah komplotan terorrist itu, dasar wanita bedebah,  thummmm” sebiji timah panas menembus dadanya, membuat Aclema terkapar tak bernafas sementara beberap petugas lain bergegas memasuki ruang tahanan Jhosep, menyodorkan senjata kearahnya.
“angkat tangan!!!” perintah salah seorang polisi tapi Jhosep masih mengutip kue yang berhamburan yang untuk disembunyikan.
“angkat tanganmu terrorist!!!” teriak sipir polisi itu kembali, Jhosep berdiri dengan melayangkan dua tangannya kelangit, tubuhnya menghadap dinding dimana lukisan Affrodite terlukis disana, matanya membendung air mata memandang lukisan kekasihnya Affrodite, lukisan seorang wanita cantik mengenakan kerudung dan selendang dibahunya.
“Affria!!!, maafkan aku telah berbohong padamu, aku hanya takut kamu khawatir” batin Jhosep
“thummm” timah panas menebus betisnya, tubuhnya eleng hampir terjatuh tapi jhosep mencoba bediri dengan lututnya, tangannya meraba lukisan Affrodite mencoba menopang tubuhnya sementara air  matanya membasahi pipi, menahan perih luka.
“ya Allah selamatkanlah imanku, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahhhhhh”
“thummm…, thummm”  takbir Jhosep disusul peluru menembus dada, percikan darahnya memercak ke lukisan Affrodite, tubuhnya tersungkur kedinding perlahan rebah dalam gelimang darah.
“Asyhadu anlaa ila haillallah, wa asyhaduuuuuuu annaaaaaa muhammmmmaduuuuur rasulullah” mulutnya bersyahadat dengan terbata-bata, matanya memejam pelan membuat simpul senyuman bersama hembusan terakhir yang memisahkan dirinya dengan Affria, memisahkan dirinya dengan kue-kue  cinta buatan istrinya, dan  memisahkan dirinya dengan bumi Holant Van Orange.
3 agustus 2015
Di mabna serawak  lt.2 no.2



[1]Ejaan yang benar Aphrodite yang berarti bidadari tanpa sayap, diubah karena ada maksud dan tujuan tertentu.
[2]Terimakasih aklima

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lukisan Affrodite"

Posting Komentar